Pasar merupakan salah satu tempat orang memenuhi kebutuhan primer, sekunder, maupun tertier. Di pasar orang melakukan interaksi dari transaksi jual beli sampai ngegosip. Pasar secara umum dari jenis tempatnya ada pasar tradisional dan pasar modern. Namun, karena beranekaragamannya kebutuhan sehingga terjadi pergeseran pasar tradisional tidak semata-mata di desa saja. Ada pasar tradisional desa dan pasar tradisional kota. Pasar modern masih relatif di kota-kota besar, hanya sebagian kecil yang sudah berada di desa untuk taraf mall. Sejenis supermarket sudah ada, itupun masih di kawasan kecamatan, belum ke desanya.
Tingkat pendapatan masyarakat yang beragam membuat pasar tradisional tetap bersemangat untuk tetap eksis ditengah hebohnya pasar modern yang mampu memberikan fasilitas lebih baik. Pasar tradisional khususnya di desa mempunyai ciri khas yaitu hanya buka pada hari-hari tertentu atau yang disebut hari pasaran Jawa yaitu Pon, Wage, Kliwon, Legi, dan Pahing. Penamaannya juga disesuaikan dengan hari pasarannya, misalnya pasar itu buka setiap hari senin maka disebut Pasar Senin dan apabila buka setiap Pahing, maka disebut Pasar Pahing. Penamaan bisanya juga tergantung nama desa, misalnya pasarnya berada di Desa Bendilwungu maka namanya Pasar Bendilwungu dan untuk bukanya juga ada yang dua hari pasaran. Misalnya Pasar Bendilwungu buka setiap Pahing dan Kliwon.
Pasar tradisional mayoritas menjajakan kebutuhan primer, seperti pangan (sayuran, daging, beras, telur, bumbu rempah, cabai, tempe, dan beramacam-macam jenis makanan baik bahan mentah maupun jadi), sandang (pakaian dari usia bayi sampai dewasa, namun rata-rata homemade atau konveksi sehingga tidak bermerk kelas atas), papan (lebih pada alat-alat rumah tangga, misalnya bak mandi, tempat sabun, kaca rias, dll). Dilihat dari segi pengunjung juga lebih sederhana cara berpakaiannya, sehingga jarang ditemukan yang berlebihan berias untuk pergi ke pasar tradisional. Kelemahan pasar tradisional adalah tempatnya kurang nyaman (becek, bau, bising, panas, dsb), pedagang tidak terorganisir secara baik, keamanan lemah, harga kurang terkontrol sehingga yang tidak biasa ke pasar tradisional akan menjadi korban penipuan harga.
Kelemahan yang ada di pasar tradisional ini diambil sebagai peluang untuk memikat kocek masyarakat khususnya para konglongmerat. Mereka bisa berbelanja sendiri tanpa harus menyuruh pembantu dan bisa merasa aman serta nyaman. Pasar modern seperti di mall besar, hipermarket, supermarket, dll mampu menghadirkan kebutuhan primer, sekunder, maupun tertier. Fasilitas AC, tempat yang bersih, parkiran rapi, keamanan terkontrol, dan minimnya kejahatan membuat mayoritas masyarakat pergi ke pasar modern. Bagi kaum muda mungkin hanya sekedar nongkrong, tapi bagi orang tua mereka akan memprioritaskan membeli seluruh kebutuhannya di pasar modern sehingga perlahan akan menggeser peran pasar tradisional, walaupun sebagian stock barang yang ada di pasar modern juga berasal dari pemasok yang sama pada pasar tradisional.
Harga barang yang lebih mahal di banding harga barang di pasar tradisional tidak menjadi masalah pada masyarakat menengah ke atas. Ini bukti bahwa kemasan itu penting dan patut diperhatikan. Menyadari makna kemasan itu, pada kota besar seperti Yogyakarta, Solo, Surabaya, Jakarta membuat pasar tradisional di kota besar dengan bangunan yang cukup layak seperti Pasar Bringharjo (Yogyakarta), Pasar Wonokromo (Surabaya), Pusat Grosir Solo (PGS), dll. Ada langsung dana dari pemerintah daerah juga ada yang bekerjasama dengan investor seperti Pasar Wonokromo (Surabaya).
Melihat fenomena demikian ada dua kemungkinan yang bisa terjadi, pertama masyarakat pada umumnya akan malu pergi ke pasar tradisional, selain kelemahan daripada pasar tradisional itu sendiri juga karena faktor gengsi dan kehormatan. Kemungkinan kedua, bagi masyarakat yang sadar akan kebutuhan dan punya rasa peduli akan selektif dalam berbelanja di pasar tradisional atau di pasar modern. Peran pemerintah, kesadaran masyarakat, dan peran media massa menurut penulis akan menjauhkan isu bahwa pasar tradisional akan teranilasi. Kecintaan terhadap pasar tradisional dan ciri khas pasar tradisional menghadirkan keyakinan bahwa pasar tradisional mampu tetap eksis di sepanjang masa. Layaknya jamu gendong, penjual jajanan pasar, sampai kegiatan memberi pada orang lain secara ikhlas hanya bisa ditemukan di pasar tradisional yang sebagian merupakan wujud budaya bangsa Indonesia sendiri. Keramahan, kesederhanaan, kerja keras, dan beragamnya masyarakat tercermin di pasar tradisional.
Pasarku budayaku, hiduplah selalu.
Sumintarsih.2011.Eksistensi Pasar Tradisional: Relasi dan Jaringan Pasar Tradisional di Kota Surabaya-Jawa Timur.Yogyakarta:Balai Pelestari Sejarah dan Nilai Tradisional Yogyakarta
Cyril S. Belshaw.1981.Tukar Menukar Tradisional dan Pasar Modern.Jakarta:PT Gramedia