Pages

Tuesday, 10 January 2012

Pasarku Kebudayaanku

Pasar merupakan salah satu tempat orang memenuhi kebutuhan primer, sekunder, maupun tertier. Di pasar orang melakukan interaksi dari transaksi jual beli sampai ngegosip. Pasar secara umum dari jenis tempatnya ada pasar tradisional dan pasar modern. Namun, karena beranekaragamannya kebutuhan sehingga terjadi pergeseran pasar tradisional tidak semata-mata di desa saja. Ada pasar tradisional desa dan pasar tradisional kota. Pasar modern masih relatif di kota-kota besar, hanya sebagian kecil yang sudah berada di desa untuk taraf mall. Sejenis supermarket sudah ada, itupun masih di kawasan kecamatan, belum ke desanya.
Tingkat pendapatan masyarakat yang beragam membuat pasar tradisional tetap bersemangat untuk tetap eksis ditengah hebohnya pasar modern yang mampu memberikan fasilitas lebih baik. Pasar tradisional khususnya di desa mempunyai ciri khas yaitu hanya buka pada hari-hari tertentu atau yang disebut hari pasaran Jawa yaitu Pon, Wage, Kliwon, Legi, dan Pahing. Penamaannya juga disesuaikan dengan hari pasarannya, misalnya pasar itu buka setiap hari senin maka disebut Pasar Senin dan apabila buka setiap Pahing, maka disebut Pasar Pahing. Penamaan bisanya juga tergantung nama desa, misalnya pasarnya berada di Desa Bendilwungu maka namanya Pasar Bendilwungu dan untuk bukanya juga ada yang dua hari pasaran. Misalnya Pasar Bendilwungu buka setiap Pahing dan Kliwon.
Pasar tradisional mayoritas menjajakan kebutuhan primer, seperti pangan (sayuran, daging, beras, telur, bumbu rempah, cabai, tempe, dan beramacam-macam jenis makanan baik bahan mentah maupun jadi), sandang (pakaian dari usia bayi sampai dewasa, namun rata-rata homemade atau konveksi sehingga tidak bermerk kelas atas), papan (lebih pada alat-alat rumah tangga, misalnya bak mandi, tempat sabun, kaca rias, dll). Dilihat dari segi pengunjung juga lebih sederhana cara berpakaiannya, sehingga jarang ditemukan yang berlebihan berias untuk pergi ke pasar tradisional. Kelemahan pasar tradisional adalah tempatnya kurang nyaman (becek, bau, bising, panas, dsb), pedagang tidak terorganisir secara baik, keamanan lemah, harga kurang terkontrol sehingga yang tidak biasa ke pasar tradisional akan menjadi korban penipuan harga.
Kelemahan yang ada di pasar tradisional ini diambil sebagai peluang untuk memikat kocek masyarakat khususnya para konglongmerat. Mereka bisa berbelanja sendiri tanpa harus menyuruh pembantu dan bisa merasa aman serta nyaman. Pasar modern seperti di mall besar, hipermarket, supermarket, dll mampu menghadirkan kebutuhan primer, sekunder, maupun tertier. Fasilitas AC, tempat yang bersih, parkiran rapi, keamanan terkontrol, dan minimnya kejahatan membuat mayoritas masyarakat pergi ke pasar modern. Bagi kaum muda mungkin hanya sekedar nongkrong, tapi bagi orang tua mereka akan memprioritaskan membeli seluruh kebutuhannya di pasar modern sehingga perlahan akan menggeser peran pasar tradisional, walaupun sebagian stock barang yang ada di pasar modern juga berasal dari pemasok yang sama pada pasar tradisional.
Harga barang yang lebih mahal di banding harga barang di pasar tradisional tidak menjadi masalah pada masyarakat menengah ke atas. Ini bukti bahwa kemasan itu penting dan patut diperhatikan. Menyadari makna kemasan itu, pada kota besar seperti Yogyakarta, Solo, Surabaya, Jakarta membuat pasar tradisional di kota besar dengan bangunan yang cukup layak seperti Pasar Bringharjo (Yogyakarta), Pasar Wonokromo (Surabaya), Pusat Grosir Solo (PGS), dll. Ada langsung dana dari pemerintah daerah juga ada yang bekerjasama dengan investor seperti Pasar Wonokromo (Surabaya).
Melihat fenomena demikian ada dua kemungkinan yang bisa terjadi, pertama masyarakat pada umumnya akan malu pergi ke pasar tradisional, selain kelemahan daripada pasar tradisional itu sendiri juga karena faktor gengsi dan kehormatan. Kemungkinan kedua, bagi masyarakat yang sadar akan kebutuhan dan punya rasa peduli akan selektif dalam berbelanja di pasar tradisional atau di pasar modern. Peran pemerintah, kesadaran masyarakat, dan peran media massa menurut penulis akan menjauhkan isu bahwa pasar tradisional akan teranilasi. Kecintaan terhadap pasar tradisional dan ciri khas pasar tradisional menghadirkan keyakinan bahwa pasar tradisional mampu tetap eksis di sepanjang masa. Layaknya jamu gendong, penjual jajanan pasar, sampai kegiatan memberi pada orang lain secara ikhlas hanya bisa ditemukan di pasar tradisional yang sebagian merupakan wujud budaya bangsa Indonesia sendiri. Keramahan, kesederhanaan, kerja keras, dan beragamnya masyarakat tercermin di pasar tradisional.
Pasarku budayaku, hiduplah selalu.

Sumintarsih.2011.Eksistensi Pasar Tradisional: Relasi dan Jaringan Pasar Tradisional di Kota Surabaya-Jawa Timur.Yogyakarta:Balai Pelestari Sejarah dan Nilai Tradisional Yogyakarta
Cyril S. Belshaw.1981.Tukar Menukar Tradisional dan Pasar Modern.Jakarta:PT Gramedia

Monday, 9 January 2012

KORUPSI BERETIKA

Beretika, sering seseorang mengucapkan kata tersebut kepada orang yang memiliki sopan santun baik kepada dirinya sendiri maupun orang lain. Pengertian Etika (Etimologi), berasal dari bahasa Yunani adalah “Ethos”, yang berarti watak kesusilaan atau adat kebiasaan (custom). Etika biasanya berkaitan erat dengan perkataan moral yang merupakan istilah dari bahasa Latin, yaitu “Mos” dan dalam bentuk jamaknya “Mores”, yang berarti juga adat kebiasaan atau cara hidup seseorang dengan melakukan perbuatan yang baik (kesusilaan), dan menghindari hal-hal tindakan yang buruk.

Penjelasan sekilas tentang etika, membuat tanda tanya besar akan fenomena yang terjadi di masyarakat. Orang yang dianggap beretika dan seharusnya jelas mahir akan hal itu bersikap seolah tidak beretika. Hanya minoritas diantaranya yang mau untuk malu mengacuhkan hal tersebut dan relitanya minoritas itu akan tersingkir. Bukan mengapa atau kenapa ? tapi jawab mayoritas itu demi kepentingan rakyat. Etika berangkat dari nilai yakni anggapan sesuatu itu baik atau buruk. Nilai inipun akan bervariasi antara kebenaran atau pembenaran. Nilai di satu sistem akan berbeda dengan sistem lainnya. Misal pembunuhan itu tidak beretika, tindakan keji, dsb. Jika itu mutlak, maka hukuman gantung, tembak untuk para tersangka itu pun keji da tidak beretika. Seharusnya bila semua berjalan pada tempatnya dan sesuai etika, tidak ada kejadian yang patut dipertanyakan baik atau burunknya karena semua telah menyadarinya.

Fenomena kemiskinan di Indonesia konon terletak pada satu sumber utama yaitu korupsi. Sering digembor-gemborkan oleh berbagai kalangan intelektual bahwa apabila kekayaan alam mampu didistribusikan secara benar, maka tidak ada satu pun rakyat Indonesia yang  kelaparan dalam berbagai kebutuhan hidup. Sorotannya dalam media massa mobil pejabat yang bermilyar rupiah dengan pengemis jalanan yang perlahan dan pasti akan mati dalam kondisi dan tetap di jalanan. Apakah ini yang disebut demi kepentingan rakyat ? atau keadaan ini dipilih agar tidak bertambahnya pengemis jalanan yang sekarang ada ribuan agar tidak menjadi jutaan ?

Sebuah judul artikel Mengemis di Perempatan Jalan demi Membeli Bolpoin (Jawa Pos, Kamis 27 Mei 2010 : 14) menjadi bukti bahwa salah satu rakyat Indonesia yang kreatif untuk mengemis sebagai suatu hasil berpikir demi membeli bolpoin. Hal ini secara tidak langsung juga menggambarkan keadaan pemegang kekuasaan yang mengemis dari rakyat. Namun, caranya jelas beda. Rakyat yang mengemis dijalanan menggunakan kesusahan dan kebodohan mereka untuk mengemis, sedangkan pemegang kekuasaan menggunakan wewenag dang kepintaran mereka bermain kata-kata untuk mengemis harta dari hak-hak rakyat yang katanya sedang diperjuangkan.

Mengutip peryantaan dari Walzer, bahwa bila kita melanggar aturan moral, kita tahu kita “ telah melakukan sesuatu yang salah sekalipun apa yang kita lakukan adalah juga hal yang terbaik untuk dilakukan secara keseluruhan dalam situasi itu”. Menurut kutipan tersebut, hati nurani merupakan hakim yang paling adil walaupun hati nurani jarang didengarkan sebagai perwujudan suatu tindakan. Karl Mark juga menyerukan bahwa pertentangan lah yang paling abadi dalam kehidupan manusia. Pertentangan ini baik secara intern maupun intern yang dirasakan oleh suatu kehidupan, baik manusia, hewan, maupun tumbuhan. Mereka selalu tidak bisa berperilaku sesuai kehendak murninya. Mereka ingin istirahat, namun sinar matahari memaksanya untuk tetap berakivitas.

Etika yang dipelajari mencoba menyeimbangkan hubungan keterpaksaan hidup itu untuk menjadi harmonis dalam berbagai aspek kehidupan. Sadar akan keterpaksaan inilah seorang harus bisa menetukan pilahan. Pilihan itu juga akan berdampak pada pilihan selanjutnya dengan konsekuensi yang imbang atas apa yang telah dipilihnya. Sebenarnya menjadi seorang Nazarudin atau Gayus hampir mirip dengan menjadi seorang waria atau mungkin gay,dsb. Mereka menyatakan bahwa itu adalah takdir. Namun, mereka lupa bahwa akal mereka lumpuh ketika mereka dipilihkan jalan oleh pilihan lumpuh mereka sendiri. Mereka mampu berkata bangga, senang, ataupun sedih. Namun nurani mereka tidak akan mengucapkan hal serupa, kecuali apa yang diucapkan merupakan kebenaran atas hidup mereka sendiri.

Dennis F. Thompson.1999.Etika Politik Pejabat Negara.Jakarta:Yayasan Obor Indonesia

Tuesday, 3 January 2012

Wajah Transportasi Publik

Transportasi publik merupakan fasilitas yang disediakan oleh pemerintah untuk mempermudah aktivitas masyarakat dalam memenuhi kebutuhan dan kepentingannya baik ekonomi, sosial, budaya, pendidikan, rekreasi, dll.
Transportasi publik di Indonesia banyak macamnya karena masyarakat Indonesia beragam tipologi daerah dan kebutuhannya. Ada bus, kereta, perahu, pesawat, becak, bemo, angkot, andong, ojek. Bus paling mendominasi berbagai daerah di Indonesia karena jenis transportasi darat yang menjangkau dalam kota maupun antar kota. Kelengkapan yang tersedia tersebut tidak berbanding lurus dengan kepuasan para penggunanya. Rasa tidak nyaman menggunakan fasilitas umum, khususnya trasportasi publik sering dirasakan oleh para penggunanya. Ada beberapa hal yang memunculkan rasa ketidaknyaman tersebut yaitu banyaknya copet, sesak, panas, kadang ada penipuan tarif, kondisi sarana transportasi yang sudah tidak layak pakai, dan akhir-akhir ini marak pemerkosaan di transportasi umum (angkot). Tarif transportasi umum memang terjangkau  oleh segala lapisan masyarakat, namun keterjangkauannya sering diplesetkan “ murah kok njaluk slamet” yang artinya murah kok minta selamat. Hal ini sering disayangkan oleh masyarakat terutama yang sangat tergantung pada transportasi publik. Mengingat itu fasilitas dari pemerintah yang semestinya mampu dipergunakan secara efektif dan efisien demi kesejahteraan masyarakat. Tarif yang murah, kondisi sarana transportasi baik, dan keselamatan terjaga merupakan dambaan bagi setiap pengguna transportasi publik. Kepercayaan terhadap transportasi publik inilah yang perlu dibangun dengan perbaikan transportasi publik yang telah ada, sehingga masyarakat lebih memprioristaskan transportasi publik dari pada  milik pribadi.
Masyarakat di Indonesia lebih suka menggunakan transportasi pribadinya juga berdampak negatif. Pertama, kurangnya interaksi dengan masyarakat luas. Banyangkan bila orang-orang yang berpendidikan dan yang kurang mengenaya pendidikan duduk berdekatan di transportasi publik tentu pertukaran informasi akan terjadi di tempat tersebut dan salah satu proses belajar juga. Mengingat pendidikan di negara kita tidak dapat merata karena faktor yang kompleks. Setidaknya dengan kepercayaan setiap orang menggunakan transportasi publik akan mempertemukan banyak masyarakat dalam satu ruangan dan mampu menumbuhkan rasa keperdulian terhadap orang lain. Kedua, gejala macet dan kurang efisiennya waktu. Banyaknya kendaran pribadi akan memenuhi jalan yang tak mungkin bertambah lebar. Hal ini menimbulkan macet seperti yang terlihat pada lampu merah. Banyak mobil yang berjejer sehingga pemilik mobil harus menunggu cukup lama untuk mematuhi rambu lalu lintas, seperti di trafic light. Pengguna jalan bisa melewatkan tiga sampai empat kali lampu hijau karena antrian kendaraan yang cukup panjang. Penggunaan tnasportasi publik seharusnya dapat mencegah hal demikian dan kepentingan yang tidak terlalu dipentingkan. Misalnya kalau semua anak sekolah menggunakan sarana transportasi publik maka akan relatif kecil anak-anak yang kecelakaan, pulang tidak tepat waktu, hemat uang saku, dan mendapat istirahat yang cukup. Kerja kelompok yang  sering menjadi alasan utama anak-anak main dan pulang telat bisa diatasi dengan manajeman waktu yang tepat. Selain di lampu merah, juga di jalan padat ruko yang  mayoritas parkir kendaraan menggunakan sebagian jalan. Bila hanya motor tidak begitu bermasalah, namun kalau mobil yang membutuhkan space luas akan menganggu kenyamanan pengguna jalan lainnya terutama ketika akan parkir atau lepas parkir selalu membuat macet kendaraan lain.
Salah satu pencegah kemacetan yang handal adalah transpotasi publik, apalagi bila tarafnya seperti Jakarta sebagai ibukota negara yang sangat padat penduduk dan mayoritas bekerja merupakan makanan utamanya. Tata kota yang benar juga dapat mengurangi kemacetan dan memperlancar perjalanan pengguna jalan. Tata kota juga berpengaruh pada kepercayaan menggunakan trnsportasi publik. Di Indonesia transportasi publik, khususnya bus antar kota umumnya menggunakan  jalur melingkar dan lewatnya di pinggir kota, letak terminal dan stasiun juga bukan di pusat kota sehingga sulit dijangkau. Dibangdingkan dengan beberapa negara maju, jalur bus tidak melinggkar di pinggir kota sehingga waktu perjalanan keluar kota menggunakan transportasi pribadi dengan transportasi publik dapat sama. Namun, semua kembali pada aspek historis, teknik jalan, sosial, dan budaya di Indonesia itu sendiri.
Harapannya pemerintah mampu menumbuhkan rasa kepercayaan akan kenyamanan dan keamanan dengan perbaikan transportasi publik serta adanya peraturan tentang transportasi pribadi yang beroperasi, maka tidak menutup kemungkinan masalah lalu lintas bisa berkurang.

Munawar, Ahmad.2004.Manajemen Lalulintas Perkotaan.Yogyakarta:Beta Offset
Miro, Fidel.2004.Perencanaan Transportasi untuk Mahasiswa, Perencana, Praktisi.Jakarta:Erlangga.

Thursday, 15 December 2011

Eksistensi Sosiologi dalam Masyarakat


Dunia tanpa ilmu akan menjadi buta, namun ilmu kerap dipergunakan untuk membutakan dunia. Dua pilar yang terus eksis dalam naungan bumi tercinta ini yaitu ilmu alam (kesehatan, keadaan alam, bahan makanan, sarana dan prasarana, dll) dan ilmu sosial (politik, hukum, budaya, ekonomi, kemanusiaan, dll). Keduanya mempunyai hubungan sangat erat seperti ditunjukan dalam realitanya, bahwa manusia tanpa alam akan musnah dan alam tanpa manusia akan hampa. Kedua ilmu tersebut akan terus mempertahankan eksistensinya di dalam masyarakat. Kata eksistensi dipandang sangat penting bagi semua ilmu agar tetap hidup dan terus berkembang. Eksistensi suatu ilmu akan tetap terjaga apabila kajian dalam ilmu tersebut mampu dipahami dan diaplikasikan dalam kehidupan bermasyarakat. Misalnya, adanya rumah sakit merupakan wujud eksistensi ilmu kedokteran tetap berperan penting dalam kehidupan masyarakat. Dampak implementasi suatu ilmu juga dapat mempengaruhi tingkat eksistensi suatu ilmu tergantung kebutuhan masing-masing daerah. Terkadang daerah A lebih banyak orang yang sakit sehingga dipandang ilmu kedokteran mampu membawa perubahan yang signifikan terhadap keadaan yang lebih baik, sebaliknya di daerah B yang tingkat kebersihannya tingggi, penyakit jarang ditemukan, mungkin masyarakatnya tidak memandang ilmu kedokteran sekuat dengan masyarakat A.
Beberapa faktor yang mempengaruhi eksistensi suatu ilmu sebagai berikut: tingkat pemahaman suatu ilmu, dampak yang ditimbulkan oleh suatu ilmu, keunikan suatu ilmu, kebutuhan dalam masyarakat, kuantitas dan kualitas tokoh pendahulu. Pemahaman suatu ilmu oleh masyarakat sangat penting, seperti pada umumnya orang bilang tak kenal maka tak sayang. Begitu pula dengan eksistensi, bagaimana orang mau mempertahankan, membela dan memgembangkan suatu ilmu apabila orang tersebut tidak mengenal? dari mengenal akan beranjak untuk memahami dan kemudian mengaplikasikannya tergantung pada kemauan dari masing-masing individu. Terdapat manfaat bagi dirinya atau tidak dengan memahami ilmu tersebut. Selanjutnya, dampak yang ditimbulkan oleh suatu ilmu. Berbicara mengenai dampak tentunya ada dampak negatif dan positif, bila dampak positif yang lebih dominan daripada dapak negatifnya maka eksistensi suatu ilmu jelas akan tetap terjaga. Nilai tambahnya, manfaat yang mendominasi tersebut menjadi sarana pemikat untuk perkembangan dan kemajuan kajian suatu ilmu. Kemudian keunikan suatu ilmu juga mempengaruhi eksistensinya karena mampu menjadi daya pikat kepada individu untuk mengkajinya. Misalnya, beberapa orang berpendapat bahwa ilmu kimia dengan percobaan yang mengkombinasikan beberapa unsur menjadi senyawa dengan hal-hal unik (timbul gelembung, asap, perubahan warna, dll) mampu membawa kesenangan tersendiri kepada pengkajinya. Setelah itu, kebutuhan masyarakat. Menurut penulis faktor inilah yang sangat penting dalam eksistensi suatu ilmu. Ketika suatu ilmu sudah tidak mampu memenuhi kebutuhan masyarkat apa gunanya ilmu tersebut dipertahankan ? Pada akhirnya ilmu tersebut akan terlupa dan perlahan akan hilang karena sudah tidak ada yang mau untuk menjaga eksistensinya. And the last, kuantitas dan kualitas tokoh terdahulu ini sangat berpengaruh kepada seberapa kuat ilmu itu mempengaruhi dunia dan membawa dampak bagi dunia. Pendahulu yang handal dan berkontribusi besar bagi perkembnagan wajah dunia akan menjadikan suatu ilmu dambaan masyarakat untuk mampu mengkajinya dengan harapan minimal menjadi orang handal juga seperti tokoh-tokoh dalam keilmuannya.
Ilmu sosial yang identik dengan masyarakat dan dekat dengan sosiologi menjadi perhatian khusus dalam tulisan ini. ketika membicarakan eksistensi, tentunya sosiologi yang merupakan ilmu baru dibandingkan dengan ilmu sosial lainnya seperti ekonomi, hukum, politik juga ingin mengetahui seberapa jauh sosiologi eksis dan mempengaruhi wajah dunia. Sosiologi lahir dari suatu kekacauan, yaitu transisi masyarakatbaru yang merupakan titik pertemuan antara tiga buah revolusi, pertama revolusi politik (Revolusi Perancis), revolusi ekonomi (revolusi industri), dan revolusi intelektual (kemenangan rasionalisme, ilmu pengetahuan dan positivisme) (Giddens, 2004:XII-XIII). Tiga negara yang populer asal sosiologi adalah di Jerman, Perancis, dan Amerika Serikat. Terpilihnya tiga negara tersebut karena tokoh-tokoh sosiologi seperti Emile Durkheim, Auguste Comte, Pareto, Parson, dll mampu melihat fenomena yang ada di tiga negara tersebut secara detail sehingga muncul berbagai teori sosiologi yang beberapa relevan sampai saat ini bahkan mendatang. Pengungkapan fenomena sosial inilah yang menjadi daya tarik sosiologi untuk terus menjaga eksistensinya dan mengembangkan keilmuannya. Basis obyek kajiannya adalah masyarakat juga menjadi dayapikat yang seru dan unik karena bersifat dinamis. Sosiologi sering disepelekan karena dianggap ilmu hafalan dan membosankan dalam kacamata siswa khususnya pada jengjang SMA. Namun, bila seorang mampu mendalami maka akan menemukan hal-hal yang diluar pemikaran orang pada umumnya.
Fokus bahasan sosiologi yang luas pada hakekatnya berkutat pada garis besar pokok kajian sebagai berikut (Giddens, 2004: XXIII-XXVI) :
1.     Ikatan sosial
2.    Modernitas
3.    Dominasi dan kekuasaan
4.    Tindakan
5.    Masalah masuk akal dan tidakmasuk akal
6.    Struktur-struktur dalam masyarakat
7.    Perubahan

Dilihat segelintir orang, sosiologi  belum dikenal. Contoh riil ketika mahasiswa sosiologi angkatan 2010 UNY melakukan kuliah kerja lapangan di Bali. Salah satu guide masih awam mendengar kata sosiologi dibandingkan dengan sejarah. Guide tersebut masih bertanya apa itu sosiologi, padahal setiap harinya beliau berkecimpung dalam ranah sosial yang terus berhadapan dengan bermacam-macam wisatawan baik domestik maupun mancanegara. Konkretnya Guide tersebut sudah praktek, namun belum menyadari mengenai hal yang sehari-hari dijalaninya yaitu berinteraksi dan menyampaikan hal-hal yang berkaitan dengan Bali. Tragis sekali sosiologi, di mata orang yang berperan penting sebagai mediator budaya belum memahami sosiologi.
Sekilas menginjak pokok moral bangsa, ilmu sosial yang patut diintimidasi. Hadiah bui juga pantas tertuju untuk ilmu sosial apabila kehidupan masyarakatnya bobrok. Pada kacamata orang pada umumnya ilmu hanya sebuah sarana sebagai pengkais nafkah. Sekolah tinggi, kerja mudah, gaji besar dan penghormatan selalu didam-idamkan kalayak. Murninya ilmu sering kali dilupakan, bahwa ilmu lahir untuk beriringan, partner bukan budak. Fenomenanya, seorang mengkaji suatu ilmu mencari mana yang kelak mampu membawanya sebagai pegawai negeri yang cepat di angkat, seperti sosiologi dewasa ini. Mayoritas yang masuk di prodi atau jurusan sosiologi khususnya pendidikan hanya berpandangan bahwa sosiologi masih sedikit lulusannya, sehingga untuk menjadi pengawai negeri dengan profesi guru masih terbuaka lebar. Memprihatinkan skaligus daya pikat untuk eksistensi sosiologi sendiri. Memprihatinkan dalam pembentukan motivasinya, bukan sebagai orang yang riil mau mengembangkan sosiologi tetapi hanya ingin pegawai negeri. Daya pikatnya, dengan memanfaatkan situasi demikian banyak yang tertarik pada sosiologi dan harapannya ketika telah mengkaji tidak tuntutan pegawai negeri saja yang diharapkan, namun juga mampu mengembangkan keilmuannya di bidang sosiologi.
Setiap insan tidak pernah tahu akhir dalam kisah hidupnya, tapi hati nurani sebagai hakim yang paling adil selalu tahu apa yang menjadi the best and that true the fact. Pilihan bukan ancaman, melainkan jalan dengan konsekuensi yang tinggi.
Spirit Sociology never ending !!!!!!


Giddens, dkk.2004.Sosiologi Sejarah dan Berbagai Pemikirannya.Yogyakarta:Kreasi Wacana Offset.

Saturday, 3 December 2011

Asam Basa di Hati Kimia

Asam Basa terdengar asing di telinga yang belum mengenyam mata pelajaran kimia terutama di Sekolah Menengah Atas (SMA). Mayoritas mata pelajaran ini mendapatkan peringkat ketiga mata pelajaran yang dibenci peserta didik khususnya jurusan IPA (Ilmu Pengetahuan Alam) setelah fisika (peringkat pertama) dan matematika (peringkat kedua). Beberapa paserta didik juga memutuskan untuk tidak memilih jurusan IPA karena mata pelajaran kimia ini yang terkesan sangat abstrak dan membosankan ditambah guru yang kurang bersahabat menjadikan kimia menjadi nightmare.
Berbeda dengan minoritas yang memandang kimia sebagai sesuatu yang unik dan mengasyikan, bisa dianalogikan menemukan cinta pada pandangan pertama bersama SPU (Sistem Periodik Unsur) yang sangat memikat bagi penggemar mata pelajaran kimia. Layaknya bertemu pacar, ketika pelajaran kimia maka kaum minoritas tersebut hatinya akan bergetar dan jantungnya berdetak cepat seakan ingin mendekap seluruh ilmu yang tebingkis dalam kata kimia. So unique and that's real.
Para minoritas kimia sering berkata,"mereka benci karena mereka tak tahu anugerah yang terdapat pada hati kimia". Menurut kaum minoritas tersebut, kimia mampu menyadarkan akan asam basanya kehidupan dan bila asam basa tersebut mampu dikombinasikan dengan baik maka akan menjadi garam yang bermanfaat bagi kehidupan manusia. Masih ingatkan ? Apa manfaat garam ?? Musik dangdut sering berdendang, " dangdut tanpa goyang bagai sayur tanpa garam" kurang lebih maknanya penuh dengan kegembiraan. Namun, bila dilihat makna denotasinya maka manfaat garam selain penyedap makanan juga mengandung yodium yang dapat mencegah penyakit gondok dan menjaga metabolisme tubuh dari serangan bakteri-bekteri nakal. Jadi, bila kita mampu menyeimbangkan asam basa kehidupan, maka kita akan mampu menyelamatkan hati, pikiran, raga dan jiwa dari hal-hal yang kurang berguna. Kata lainnya mampu berarti bagi diri sendiri dan bermanfaat bagi orang lain secara meluas.

Menemui kata garam, remember kisah petani garam di Indonesia yang sangat mengenaskan. Mereka menahan terik matahari yang mengucurkan keringat hingga memandikan tubuh. Mengalirkan air laut ke kotak-kotak tambak untuk menjemurnya agar menjadi garam, dijemur, disaring, digosrok  berulang-ulang secara manual, namun hasilnya belum maksimal dan kandungan iodinnya sangat rendah sehingga hasilnya  dijual dengan harga yang murah. Hal ini serasa jatuh tertimpa tangga dan terinjak-injak mengetahui ada import garam dari negara lain yang membanjiri produk dalam negeri dan mematikan petani garam. Terasa meminum racun dan mati secara perlahan. Ditunjang budaya rakyat yang lebih suka dan bangga menggunakan produk luar negeri, dalam konteks ini juga mencekik petani garam.
Bila dilihat dari sudut pandang pemerintah yang memutuskan untuk import (garam, gula, cabai, dsb) semata-mata untuk memenuhi kebutuhan pasar dan menstabilkan harga sehingga barang pokok dapat dijangkau oleh semua lapisan masyarakat. Namun, langkah tersebut kurang efektif bila pengimporan dilakukan secara terus-menerus tanpa ada batasan yang jelas mengenai kestabilan harga pasar yang seharusnya sosialisasi pengimporan barang dipublikasikan secara gamblang sehingga konsumen juga berpikir dengan etika kepedulian bukan semata kebutuhan individual ketika hendak mengkonsumsi.

Langkah yang mungkin dapat memperkaya diri, dalam konteks petani garam harapannya pemerintah mampu memfasilitasi produksi garam dengan alat yang standart sehingga dapat dioperasikan oleh petani garam dan meningkatkan hasil produksi serta kualitas produksi garam mereka. Toh, bila mencerdaskan bangsa sendiri dan memudidayakan bagsa sendiri untuk gemar berproduksi lebih baik daripada melestarikan budaya konsumerisme yang berujung pada kemelaratan karena besar pasak daripada tiangnya. Sekilas mungkin solusi ini akan diclaim pemborosan dan belum tentu petani garam yang berpendidikan rendah mampu mengoperasikan alat produksi dan mau meninggalkan cara produksi yang tradisional menuju cara produksi yang modern. Sanggahan yang cukup menarik, namun dalam suatu langkah tentunya pasti ada halangan. Solusi tersebut dapat dikatakan hasilnya jangka panjang, tapi bukankah jangka pangjang itu juga akan menguntungkan masyarakat karena telah pandai ? Kata pandai tak akan muncul begitu saja tanpa adanya kata bodoh atau kata bodoh terlebih dahulu. Mulai dari tahu, mengenal, mengerti, memahami, mengaplikasi, menyumbangkan, menjaganya, dan terus mengembangkannya. Adanya penyadaran dan kesadaran untuk hidup yang lebih baik mampu membuat gejolak yang teraniaya terangkat untuk melakuakn perubahan (ingat bom Hirosima dan Nagasaki jepang, revolusi Perancis, Inggris, dan di negeri kita adanya reformasi pemerintahan).

Itulah satu kata "garam" yang mengingatkan kita pada salah satu fenomena kayanya Indonesia yang sering terlupa. Percampuran unsur-unsur sehingga menjadi senyawa mampu melihat kekomplekan masalah yang ada di negeri tercinta ini. Kimia masih punya hati, dan hati inilah sebagai permata yang tetap bersinar untuk tanah air pusaka yaitu Indonesia.

best Regard,
D.A.P_W.D
:-D

Monday, 21 November 2011

Hari Pendidikan Nasional


LEMAHNYA KESADARAN MAHASISWA UNY
TERHADAP HARI PENDIDIKAN NASIONAL (HARDIKNAS)

Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) merupakan salah satu perguruan tinggi negeri yang berada di Yogyakarta, terdiri dari enam fakultas yaitu Fakultas Ilmu Sosial, Fakultas Ekonomi, Fakultas Matematika dan IPA, Fakultas Bahasa dan Seni, Fakultas Ilmu Keolahragaan, dan Fakultas Teknik. Dulu Universitas ini merupakan IKIP Yogyakarta. Universitas ini berperan penting untuk mencetak kaum terpelajar kususnya seorang guru.
Guru merupakan kata yang tidak asing bagi segala lapisan masyarakat. Baik usia dini sampai tua, semua mengenalnya sebagai sosok tauladan yang baik dan orang yang paling berjasa dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Kebanyakan guru yang berkecimpung dalam bidang pendidikan, terkadang lupa atau bahkan tidak mengetahui perkembangan pendidikan di Indonesia. Mereka tetap terpaku pada satu patokan yang dulu diraihnya ketika masih kuliah dan tidak membuka diri untuk selalu memperbaharui pengetahuannya karena kesibukan pribadi atau mungkin semangat yang sudah berkurang sejalan dengan bertambahnya usia.
Hal-hal demikian yang ada pada guru, tercermin pada calon guru khususnya di UNY. Calon guru seharusnya mengenal betul hal-hal yang berkaitan dengan pendidikan. Contoh yang paling sederhana adalah hari pendidikan nasional yang diperingati setiap tanggal 2 Mei. Hari tersebut sering terlupakan. Mungkin bagi kaum awam hari tersebut biasa saja. Namun, bagi seorang calon guru yang sangat erat dengan pendidikan apakah lazim apabila melupakan hari yang seharusnya berarti dalam langkah hidup bagi seorang guru?
Dari 10 mahasiswa UNY yang saya tanya mengenai peringatan hari pendidikan nasional, hanya 3 mahasiswa UNY yang menjawab benar. Itupun mereka baru saja mempelajari mengenai Hardiknas. Hal tersebut cerminan rendahnya kepekaan calon guru khususnya pada pendidikan. Tidak menjadi pokok, calon guru harus hafal hari-hari nasional secara menyeluruh. Namun, seorang guru dituntut untuk menguasai pengetahuan atau wawasan yang luas. Apabila hal sederhana saja dilupakan, bagaimana dengan hal-hal yang lebih komplek permasalahannya? Ini salah satu analogi, bahwa hal terkecil pun harus tetap diperhatikan. Karena dengan memperhatikan hal-hal yang terkecil akan dapat merambah ke hal-hal yang besar. Bukankah suatu yang besar selalu disusun oleh unsur-unsur yang kecil?
Sayang sekali tidak ada perlakuan khusus terhadap peringatan hari pendidikan nasional oleh mahasiswa. Misalnya, mengadakan seminar membahas mengenai profesional guru, metode mengajar yang menarik, pendekatan emosional terhadap siswa-siswa atau yang lainnya. Saya hanya menemukan artikel-artikel yang menyinggung mengenai hardiknas, sedangkan untuk wujud konkret dari kesadaran bahwa Hardiknas itu bermakna belum ada.
Seharusnya hari pendidikan nasional dapat membekaskan makna untuk menuju hari berikutnya dengan lebih baik. Bukan tidak ada, namun sedikit sekali mahasiswa yang mengadakan kegiatan-kegiatan untuk memperingati hari pendidikan nasional. Kebanyakan kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh mahasiswa masih terpaku pada himpunan mahasiswa (Hima) masing-masing jurusan. Selain itu, mahasiswa yang tidak berkecimpung dalam organisasi, menghabiskan waktunya untuk bermain dan mencari kesenangan. Apabila mereka telah memilih untuk kuliah sebagai calon guru, seharusnya pola perilaku dan hal-hal mengenai pendidikan harus diperdalam. Pembentukan kepribadian sebagai seorang guru tidaklah mudah, apalagi mahasiswa masih berusia remaja dan kondisi emosionalnya masih labil. Semuanya memang  tidak secara spontan namun, melalui proses dan bertahap. Apabila menuju prosesnya saja sudah tidak ada perlakuan, bagaimana mau menjalani prosesnya hingga menemukan hasil dari arah yang ditempuhnya?
Menurut saya peran Universitas Negeri Yogyakarta cukup baik untuk meningkatkan kesadaran mahasiswa terhadap hari pendidikan nasional. Beberapa waktu yang lalu, saya menemukan artikel mengenai penghargaan guru tauladan daerah Yogyakarta guna memperingati hari pendidikan nasional ketika membuka web UNY. Guru-guru yang terpilih menjadi guru tauladan tersebut diberi uang pembinaan. Penghargaan tersebut diberikan oleh Ibu Nurfina selaku Pembantu Rektor I. Saya rasa hal tersebut patut dicontoh oleh mahasiswa kususnya calon guru. Misalnya memberikan penghargaan kepada mahasiswa (calon guru) yang berpenampilan baik dan sudah mencerminkan sebagai seorang guru atau dengan kegiatan-kegiatan seperti yang telah saya sebutkan sebelumnya.
Dilihat dari sudut pandang yang lebih luas, dibandingkan dengan hari valentine (hari kasih sayang), kesadaran akan pentingnya hari pendidikan nasional sangat memprihatinkan. Saya yakin 80 % siswa SD, SMP, dan SMA mengetahui hari valentine dan 40% merayakannya, sedangkan hari pendidikan nasional siswa SD, SMP, dan SMA belum tentu tahu apabila gurunya tidak menyampaikannya di dalam kelas. Media masa seperti televisi, radio, koran, majalah mengiklankan hari valentine sebelum hari valentine sampai sesudah hari valentine, sedangkan artikel mengenai hari pendidikan nasional hanya pada koran-koran tertentu. Maraknya perayaan valentine dibanding dengan hari pendidikan nasional karena hari valentine lebih komersil dalam arti banyak orang memanfaatkan hari itu untuk mendapatkan keuntungan ekonomi. Hal tersebut terwujud dari gencarnya iklan sampai pada pernak-pernik yang disediakan di kebanyakan toko, terutama toko kado. Targetannya adalah kaum muda yang sangat familiar dengan kasih sayang (pacaran) sedangkan hari pendidikan nasional tidak ada nilai komersil yang bisa menguntungkan bagi keseluruhan lapisan masyarakat. Hanya kaum terpelajar dan kaum yang berkecimpung di dunia pendidikan yang mengatakannya bermakna. Itupun tidak semua kaum terpelajar menyadari makna dari hari pedidikan tersebut.
Hal yang perlu disoroti, bagaimana agar kesadaran akan hari pendidikan nasional bisa muncul khususnya bagi kaum terpelajar (mahasiswa) dan keseluruhan lapisan masyarakat pada umumnya? Apakah dengan membuat hari pendidikan nasional mempunyai nilai komersil ekonomi sehingga dapat menjual atau meningkatkan kesadaran para kaum terpelajar dulu baru merambah ke masyarakat secara menyeluruh?
Menurut saya untuk meningkatkan kesadaran mengenai Hardiknas untuk semua lapisan masyarakat pada umumnya dan khususnya bagi mahasiswa (calon guru) harus melalui penanaman pada jenjang pendidikan dasar terhadap Hardiknas ketika pelajaran dalam kelas dan merealisasikannya dalam bentuk kegiatan-kegiatan yang bertema pendidikan. Peserta didik harus diajarkan memaknai hari tersebut, misalnya dengan membudayakan Hardiknas sebagai hari seorang anak harus (wajib) membantu pekerjaan orang yang lebih tua atau kegiatan lain. Seperti hari valentine yang diidentikkan dengan memberikan hadiah kepada orang-orang yang disayangi.
Dengan kegiatan semacam itu, saya kira Hadiknas tidak akan luntur bahkan terlupakan oleh masyarakat karena wujud dari peringatan Hardiknas jelas dan dilakukan oleh masyarakat. Kalau Hardiknas dibuat agar mempunyai nilai komersil saya kurang setuju karena pendidikan terlahir dengan tulus, penuh harapan baik dan semangat yang membara sehingga apabila harapan baik tersebut dikombinasikan dengan keuntungan, saya kira kurang tepat. Namun, apabila dalam konteks pembelajaran wirausaha masih bisa diterima. Misalnya, Hardiknas diperingati dengan lomba berjualan selama satu bulan. Dalam perlombaan tersebut yang memperoleh keuntungan tertinggi dalam satu bulan, dinyatakan sebagai pemenang. Para peserta diutamakan mahasiswa yang memulai usahanya dari awal (nol). Hal tersebut lebih terwadahi dalam pembelajaran softskill, bukan semata-mata nilai komersil