Pages

Thursday, 15 December 2011

Eksistensi Sosiologi dalam Masyarakat


Dunia tanpa ilmu akan menjadi buta, namun ilmu kerap dipergunakan untuk membutakan dunia. Dua pilar yang terus eksis dalam naungan bumi tercinta ini yaitu ilmu alam (kesehatan, keadaan alam, bahan makanan, sarana dan prasarana, dll) dan ilmu sosial (politik, hukum, budaya, ekonomi, kemanusiaan, dll). Keduanya mempunyai hubungan sangat erat seperti ditunjukan dalam realitanya, bahwa manusia tanpa alam akan musnah dan alam tanpa manusia akan hampa. Kedua ilmu tersebut akan terus mempertahankan eksistensinya di dalam masyarakat. Kata eksistensi dipandang sangat penting bagi semua ilmu agar tetap hidup dan terus berkembang. Eksistensi suatu ilmu akan tetap terjaga apabila kajian dalam ilmu tersebut mampu dipahami dan diaplikasikan dalam kehidupan bermasyarakat. Misalnya, adanya rumah sakit merupakan wujud eksistensi ilmu kedokteran tetap berperan penting dalam kehidupan masyarakat. Dampak implementasi suatu ilmu juga dapat mempengaruhi tingkat eksistensi suatu ilmu tergantung kebutuhan masing-masing daerah. Terkadang daerah A lebih banyak orang yang sakit sehingga dipandang ilmu kedokteran mampu membawa perubahan yang signifikan terhadap keadaan yang lebih baik, sebaliknya di daerah B yang tingkat kebersihannya tingggi, penyakit jarang ditemukan, mungkin masyarakatnya tidak memandang ilmu kedokteran sekuat dengan masyarakat A.
Beberapa faktor yang mempengaruhi eksistensi suatu ilmu sebagai berikut: tingkat pemahaman suatu ilmu, dampak yang ditimbulkan oleh suatu ilmu, keunikan suatu ilmu, kebutuhan dalam masyarakat, kuantitas dan kualitas tokoh pendahulu. Pemahaman suatu ilmu oleh masyarakat sangat penting, seperti pada umumnya orang bilang tak kenal maka tak sayang. Begitu pula dengan eksistensi, bagaimana orang mau mempertahankan, membela dan memgembangkan suatu ilmu apabila orang tersebut tidak mengenal? dari mengenal akan beranjak untuk memahami dan kemudian mengaplikasikannya tergantung pada kemauan dari masing-masing individu. Terdapat manfaat bagi dirinya atau tidak dengan memahami ilmu tersebut. Selanjutnya, dampak yang ditimbulkan oleh suatu ilmu. Berbicara mengenai dampak tentunya ada dampak negatif dan positif, bila dampak positif yang lebih dominan daripada dapak negatifnya maka eksistensi suatu ilmu jelas akan tetap terjaga. Nilai tambahnya, manfaat yang mendominasi tersebut menjadi sarana pemikat untuk perkembangan dan kemajuan kajian suatu ilmu. Kemudian keunikan suatu ilmu juga mempengaruhi eksistensinya karena mampu menjadi daya pikat kepada individu untuk mengkajinya. Misalnya, beberapa orang berpendapat bahwa ilmu kimia dengan percobaan yang mengkombinasikan beberapa unsur menjadi senyawa dengan hal-hal unik (timbul gelembung, asap, perubahan warna, dll) mampu membawa kesenangan tersendiri kepada pengkajinya. Setelah itu, kebutuhan masyarakat. Menurut penulis faktor inilah yang sangat penting dalam eksistensi suatu ilmu. Ketika suatu ilmu sudah tidak mampu memenuhi kebutuhan masyarkat apa gunanya ilmu tersebut dipertahankan ? Pada akhirnya ilmu tersebut akan terlupa dan perlahan akan hilang karena sudah tidak ada yang mau untuk menjaga eksistensinya. And the last, kuantitas dan kualitas tokoh terdahulu ini sangat berpengaruh kepada seberapa kuat ilmu itu mempengaruhi dunia dan membawa dampak bagi dunia. Pendahulu yang handal dan berkontribusi besar bagi perkembnagan wajah dunia akan menjadikan suatu ilmu dambaan masyarakat untuk mampu mengkajinya dengan harapan minimal menjadi orang handal juga seperti tokoh-tokoh dalam keilmuannya.
Ilmu sosial yang identik dengan masyarakat dan dekat dengan sosiologi menjadi perhatian khusus dalam tulisan ini. ketika membicarakan eksistensi, tentunya sosiologi yang merupakan ilmu baru dibandingkan dengan ilmu sosial lainnya seperti ekonomi, hukum, politik juga ingin mengetahui seberapa jauh sosiologi eksis dan mempengaruhi wajah dunia. Sosiologi lahir dari suatu kekacauan, yaitu transisi masyarakatbaru yang merupakan titik pertemuan antara tiga buah revolusi, pertama revolusi politik (Revolusi Perancis), revolusi ekonomi (revolusi industri), dan revolusi intelektual (kemenangan rasionalisme, ilmu pengetahuan dan positivisme) (Giddens, 2004:XII-XIII). Tiga negara yang populer asal sosiologi adalah di Jerman, Perancis, dan Amerika Serikat. Terpilihnya tiga negara tersebut karena tokoh-tokoh sosiologi seperti Emile Durkheim, Auguste Comte, Pareto, Parson, dll mampu melihat fenomena yang ada di tiga negara tersebut secara detail sehingga muncul berbagai teori sosiologi yang beberapa relevan sampai saat ini bahkan mendatang. Pengungkapan fenomena sosial inilah yang menjadi daya tarik sosiologi untuk terus menjaga eksistensinya dan mengembangkan keilmuannya. Basis obyek kajiannya adalah masyarakat juga menjadi dayapikat yang seru dan unik karena bersifat dinamis. Sosiologi sering disepelekan karena dianggap ilmu hafalan dan membosankan dalam kacamata siswa khususnya pada jengjang SMA. Namun, bila seorang mampu mendalami maka akan menemukan hal-hal yang diluar pemikaran orang pada umumnya.
Fokus bahasan sosiologi yang luas pada hakekatnya berkutat pada garis besar pokok kajian sebagai berikut (Giddens, 2004: XXIII-XXVI) :
1.     Ikatan sosial
2.    Modernitas
3.    Dominasi dan kekuasaan
4.    Tindakan
5.    Masalah masuk akal dan tidakmasuk akal
6.    Struktur-struktur dalam masyarakat
7.    Perubahan

Dilihat segelintir orang, sosiologi  belum dikenal. Contoh riil ketika mahasiswa sosiologi angkatan 2010 UNY melakukan kuliah kerja lapangan di Bali. Salah satu guide masih awam mendengar kata sosiologi dibandingkan dengan sejarah. Guide tersebut masih bertanya apa itu sosiologi, padahal setiap harinya beliau berkecimpung dalam ranah sosial yang terus berhadapan dengan bermacam-macam wisatawan baik domestik maupun mancanegara. Konkretnya Guide tersebut sudah praktek, namun belum menyadari mengenai hal yang sehari-hari dijalaninya yaitu berinteraksi dan menyampaikan hal-hal yang berkaitan dengan Bali. Tragis sekali sosiologi, di mata orang yang berperan penting sebagai mediator budaya belum memahami sosiologi.
Sekilas menginjak pokok moral bangsa, ilmu sosial yang patut diintimidasi. Hadiah bui juga pantas tertuju untuk ilmu sosial apabila kehidupan masyarakatnya bobrok. Pada kacamata orang pada umumnya ilmu hanya sebuah sarana sebagai pengkais nafkah. Sekolah tinggi, kerja mudah, gaji besar dan penghormatan selalu didam-idamkan kalayak. Murninya ilmu sering kali dilupakan, bahwa ilmu lahir untuk beriringan, partner bukan budak. Fenomenanya, seorang mengkaji suatu ilmu mencari mana yang kelak mampu membawanya sebagai pegawai negeri yang cepat di angkat, seperti sosiologi dewasa ini. Mayoritas yang masuk di prodi atau jurusan sosiologi khususnya pendidikan hanya berpandangan bahwa sosiologi masih sedikit lulusannya, sehingga untuk menjadi pengawai negeri dengan profesi guru masih terbuaka lebar. Memprihatinkan skaligus daya pikat untuk eksistensi sosiologi sendiri. Memprihatinkan dalam pembentukan motivasinya, bukan sebagai orang yang riil mau mengembangkan sosiologi tetapi hanya ingin pegawai negeri. Daya pikatnya, dengan memanfaatkan situasi demikian banyak yang tertarik pada sosiologi dan harapannya ketika telah mengkaji tidak tuntutan pegawai negeri saja yang diharapkan, namun juga mampu mengembangkan keilmuannya di bidang sosiologi.
Setiap insan tidak pernah tahu akhir dalam kisah hidupnya, tapi hati nurani sebagai hakim yang paling adil selalu tahu apa yang menjadi the best and that true the fact. Pilihan bukan ancaman, melainkan jalan dengan konsekuensi yang tinggi.
Spirit Sociology never ending !!!!!!


Giddens, dkk.2004.Sosiologi Sejarah dan Berbagai Pemikirannya.Yogyakarta:Kreasi Wacana Offset.

Saturday, 3 December 2011

Asam Basa di Hati Kimia

Asam Basa terdengar asing di telinga yang belum mengenyam mata pelajaran kimia terutama di Sekolah Menengah Atas (SMA). Mayoritas mata pelajaran ini mendapatkan peringkat ketiga mata pelajaran yang dibenci peserta didik khususnya jurusan IPA (Ilmu Pengetahuan Alam) setelah fisika (peringkat pertama) dan matematika (peringkat kedua). Beberapa paserta didik juga memutuskan untuk tidak memilih jurusan IPA karena mata pelajaran kimia ini yang terkesan sangat abstrak dan membosankan ditambah guru yang kurang bersahabat menjadikan kimia menjadi nightmare.
Berbeda dengan minoritas yang memandang kimia sebagai sesuatu yang unik dan mengasyikan, bisa dianalogikan menemukan cinta pada pandangan pertama bersama SPU (Sistem Periodik Unsur) yang sangat memikat bagi penggemar mata pelajaran kimia. Layaknya bertemu pacar, ketika pelajaran kimia maka kaum minoritas tersebut hatinya akan bergetar dan jantungnya berdetak cepat seakan ingin mendekap seluruh ilmu yang tebingkis dalam kata kimia. So unique and that's real.
Para minoritas kimia sering berkata,"mereka benci karena mereka tak tahu anugerah yang terdapat pada hati kimia". Menurut kaum minoritas tersebut, kimia mampu menyadarkan akan asam basanya kehidupan dan bila asam basa tersebut mampu dikombinasikan dengan baik maka akan menjadi garam yang bermanfaat bagi kehidupan manusia. Masih ingatkan ? Apa manfaat garam ?? Musik dangdut sering berdendang, " dangdut tanpa goyang bagai sayur tanpa garam" kurang lebih maknanya penuh dengan kegembiraan. Namun, bila dilihat makna denotasinya maka manfaat garam selain penyedap makanan juga mengandung yodium yang dapat mencegah penyakit gondok dan menjaga metabolisme tubuh dari serangan bakteri-bekteri nakal. Jadi, bila kita mampu menyeimbangkan asam basa kehidupan, maka kita akan mampu menyelamatkan hati, pikiran, raga dan jiwa dari hal-hal yang kurang berguna. Kata lainnya mampu berarti bagi diri sendiri dan bermanfaat bagi orang lain secara meluas.

Menemui kata garam, remember kisah petani garam di Indonesia yang sangat mengenaskan. Mereka menahan terik matahari yang mengucurkan keringat hingga memandikan tubuh. Mengalirkan air laut ke kotak-kotak tambak untuk menjemurnya agar menjadi garam, dijemur, disaring, digosrok  berulang-ulang secara manual, namun hasilnya belum maksimal dan kandungan iodinnya sangat rendah sehingga hasilnya  dijual dengan harga yang murah. Hal ini serasa jatuh tertimpa tangga dan terinjak-injak mengetahui ada import garam dari negara lain yang membanjiri produk dalam negeri dan mematikan petani garam. Terasa meminum racun dan mati secara perlahan. Ditunjang budaya rakyat yang lebih suka dan bangga menggunakan produk luar negeri, dalam konteks ini juga mencekik petani garam.
Bila dilihat dari sudut pandang pemerintah yang memutuskan untuk import (garam, gula, cabai, dsb) semata-mata untuk memenuhi kebutuhan pasar dan menstabilkan harga sehingga barang pokok dapat dijangkau oleh semua lapisan masyarakat. Namun, langkah tersebut kurang efektif bila pengimporan dilakukan secara terus-menerus tanpa ada batasan yang jelas mengenai kestabilan harga pasar yang seharusnya sosialisasi pengimporan barang dipublikasikan secara gamblang sehingga konsumen juga berpikir dengan etika kepedulian bukan semata kebutuhan individual ketika hendak mengkonsumsi.

Langkah yang mungkin dapat memperkaya diri, dalam konteks petani garam harapannya pemerintah mampu memfasilitasi produksi garam dengan alat yang standart sehingga dapat dioperasikan oleh petani garam dan meningkatkan hasil produksi serta kualitas produksi garam mereka. Toh, bila mencerdaskan bangsa sendiri dan memudidayakan bagsa sendiri untuk gemar berproduksi lebih baik daripada melestarikan budaya konsumerisme yang berujung pada kemelaratan karena besar pasak daripada tiangnya. Sekilas mungkin solusi ini akan diclaim pemborosan dan belum tentu petani garam yang berpendidikan rendah mampu mengoperasikan alat produksi dan mau meninggalkan cara produksi yang tradisional menuju cara produksi yang modern. Sanggahan yang cukup menarik, namun dalam suatu langkah tentunya pasti ada halangan. Solusi tersebut dapat dikatakan hasilnya jangka panjang, tapi bukankah jangka pangjang itu juga akan menguntungkan masyarakat karena telah pandai ? Kata pandai tak akan muncul begitu saja tanpa adanya kata bodoh atau kata bodoh terlebih dahulu. Mulai dari tahu, mengenal, mengerti, memahami, mengaplikasi, menyumbangkan, menjaganya, dan terus mengembangkannya. Adanya penyadaran dan kesadaran untuk hidup yang lebih baik mampu membuat gejolak yang teraniaya terangkat untuk melakuakn perubahan (ingat bom Hirosima dan Nagasaki jepang, revolusi Perancis, Inggris, dan di negeri kita adanya reformasi pemerintahan).

Itulah satu kata "garam" yang mengingatkan kita pada salah satu fenomena kayanya Indonesia yang sering terlupa. Percampuran unsur-unsur sehingga menjadi senyawa mampu melihat kekomplekan masalah yang ada di negeri tercinta ini. Kimia masih punya hati, dan hati inilah sebagai permata yang tetap bersinar untuk tanah air pusaka yaitu Indonesia.

best Regard,
D.A.P_W.D
:-D

Monday, 21 November 2011

Hari Pendidikan Nasional


LEMAHNYA KESADARAN MAHASISWA UNY
TERHADAP HARI PENDIDIKAN NASIONAL (HARDIKNAS)

Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) merupakan salah satu perguruan tinggi negeri yang berada di Yogyakarta, terdiri dari enam fakultas yaitu Fakultas Ilmu Sosial, Fakultas Ekonomi, Fakultas Matematika dan IPA, Fakultas Bahasa dan Seni, Fakultas Ilmu Keolahragaan, dan Fakultas Teknik. Dulu Universitas ini merupakan IKIP Yogyakarta. Universitas ini berperan penting untuk mencetak kaum terpelajar kususnya seorang guru.
Guru merupakan kata yang tidak asing bagi segala lapisan masyarakat. Baik usia dini sampai tua, semua mengenalnya sebagai sosok tauladan yang baik dan orang yang paling berjasa dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Kebanyakan guru yang berkecimpung dalam bidang pendidikan, terkadang lupa atau bahkan tidak mengetahui perkembangan pendidikan di Indonesia. Mereka tetap terpaku pada satu patokan yang dulu diraihnya ketika masih kuliah dan tidak membuka diri untuk selalu memperbaharui pengetahuannya karena kesibukan pribadi atau mungkin semangat yang sudah berkurang sejalan dengan bertambahnya usia.
Hal-hal demikian yang ada pada guru, tercermin pada calon guru khususnya di UNY. Calon guru seharusnya mengenal betul hal-hal yang berkaitan dengan pendidikan. Contoh yang paling sederhana adalah hari pendidikan nasional yang diperingati setiap tanggal 2 Mei. Hari tersebut sering terlupakan. Mungkin bagi kaum awam hari tersebut biasa saja. Namun, bagi seorang calon guru yang sangat erat dengan pendidikan apakah lazim apabila melupakan hari yang seharusnya berarti dalam langkah hidup bagi seorang guru?
Dari 10 mahasiswa UNY yang saya tanya mengenai peringatan hari pendidikan nasional, hanya 3 mahasiswa UNY yang menjawab benar. Itupun mereka baru saja mempelajari mengenai Hardiknas. Hal tersebut cerminan rendahnya kepekaan calon guru khususnya pada pendidikan. Tidak menjadi pokok, calon guru harus hafal hari-hari nasional secara menyeluruh. Namun, seorang guru dituntut untuk menguasai pengetahuan atau wawasan yang luas. Apabila hal sederhana saja dilupakan, bagaimana dengan hal-hal yang lebih komplek permasalahannya? Ini salah satu analogi, bahwa hal terkecil pun harus tetap diperhatikan. Karena dengan memperhatikan hal-hal yang terkecil akan dapat merambah ke hal-hal yang besar. Bukankah suatu yang besar selalu disusun oleh unsur-unsur yang kecil?
Sayang sekali tidak ada perlakuan khusus terhadap peringatan hari pendidikan nasional oleh mahasiswa. Misalnya, mengadakan seminar membahas mengenai profesional guru, metode mengajar yang menarik, pendekatan emosional terhadap siswa-siswa atau yang lainnya. Saya hanya menemukan artikel-artikel yang menyinggung mengenai hardiknas, sedangkan untuk wujud konkret dari kesadaran bahwa Hardiknas itu bermakna belum ada.
Seharusnya hari pendidikan nasional dapat membekaskan makna untuk menuju hari berikutnya dengan lebih baik. Bukan tidak ada, namun sedikit sekali mahasiswa yang mengadakan kegiatan-kegiatan untuk memperingati hari pendidikan nasional. Kebanyakan kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh mahasiswa masih terpaku pada himpunan mahasiswa (Hima) masing-masing jurusan. Selain itu, mahasiswa yang tidak berkecimpung dalam organisasi, menghabiskan waktunya untuk bermain dan mencari kesenangan. Apabila mereka telah memilih untuk kuliah sebagai calon guru, seharusnya pola perilaku dan hal-hal mengenai pendidikan harus diperdalam. Pembentukan kepribadian sebagai seorang guru tidaklah mudah, apalagi mahasiswa masih berusia remaja dan kondisi emosionalnya masih labil. Semuanya memang  tidak secara spontan namun, melalui proses dan bertahap. Apabila menuju prosesnya saja sudah tidak ada perlakuan, bagaimana mau menjalani prosesnya hingga menemukan hasil dari arah yang ditempuhnya?
Menurut saya peran Universitas Negeri Yogyakarta cukup baik untuk meningkatkan kesadaran mahasiswa terhadap hari pendidikan nasional. Beberapa waktu yang lalu, saya menemukan artikel mengenai penghargaan guru tauladan daerah Yogyakarta guna memperingati hari pendidikan nasional ketika membuka web UNY. Guru-guru yang terpilih menjadi guru tauladan tersebut diberi uang pembinaan. Penghargaan tersebut diberikan oleh Ibu Nurfina selaku Pembantu Rektor I. Saya rasa hal tersebut patut dicontoh oleh mahasiswa kususnya calon guru. Misalnya memberikan penghargaan kepada mahasiswa (calon guru) yang berpenampilan baik dan sudah mencerminkan sebagai seorang guru atau dengan kegiatan-kegiatan seperti yang telah saya sebutkan sebelumnya.
Dilihat dari sudut pandang yang lebih luas, dibandingkan dengan hari valentine (hari kasih sayang), kesadaran akan pentingnya hari pendidikan nasional sangat memprihatinkan. Saya yakin 80 % siswa SD, SMP, dan SMA mengetahui hari valentine dan 40% merayakannya, sedangkan hari pendidikan nasional siswa SD, SMP, dan SMA belum tentu tahu apabila gurunya tidak menyampaikannya di dalam kelas. Media masa seperti televisi, radio, koran, majalah mengiklankan hari valentine sebelum hari valentine sampai sesudah hari valentine, sedangkan artikel mengenai hari pendidikan nasional hanya pada koran-koran tertentu. Maraknya perayaan valentine dibanding dengan hari pendidikan nasional karena hari valentine lebih komersil dalam arti banyak orang memanfaatkan hari itu untuk mendapatkan keuntungan ekonomi. Hal tersebut terwujud dari gencarnya iklan sampai pada pernak-pernik yang disediakan di kebanyakan toko, terutama toko kado. Targetannya adalah kaum muda yang sangat familiar dengan kasih sayang (pacaran) sedangkan hari pendidikan nasional tidak ada nilai komersil yang bisa menguntungkan bagi keseluruhan lapisan masyarakat. Hanya kaum terpelajar dan kaum yang berkecimpung di dunia pendidikan yang mengatakannya bermakna. Itupun tidak semua kaum terpelajar menyadari makna dari hari pedidikan tersebut.
Hal yang perlu disoroti, bagaimana agar kesadaran akan hari pendidikan nasional bisa muncul khususnya bagi kaum terpelajar (mahasiswa) dan keseluruhan lapisan masyarakat pada umumnya? Apakah dengan membuat hari pendidikan nasional mempunyai nilai komersil ekonomi sehingga dapat menjual atau meningkatkan kesadaran para kaum terpelajar dulu baru merambah ke masyarakat secara menyeluruh?
Menurut saya untuk meningkatkan kesadaran mengenai Hardiknas untuk semua lapisan masyarakat pada umumnya dan khususnya bagi mahasiswa (calon guru) harus melalui penanaman pada jenjang pendidikan dasar terhadap Hardiknas ketika pelajaran dalam kelas dan merealisasikannya dalam bentuk kegiatan-kegiatan yang bertema pendidikan. Peserta didik harus diajarkan memaknai hari tersebut, misalnya dengan membudayakan Hardiknas sebagai hari seorang anak harus (wajib) membantu pekerjaan orang yang lebih tua atau kegiatan lain. Seperti hari valentine yang diidentikkan dengan memberikan hadiah kepada orang-orang yang disayangi.
Dengan kegiatan semacam itu, saya kira Hadiknas tidak akan luntur bahkan terlupakan oleh masyarakat karena wujud dari peringatan Hardiknas jelas dan dilakukan oleh masyarakat. Kalau Hardiknas dibuat agar mempunyai nilai komersil saya kurang setuju karena pendidikan terlahir dengan tulus, penuh harapan baik dan semangat yang membara sehingga apabila harapan baik tersebut dikombinasikan dengan keuntungan, saya kira kurang tepat. Namun, apabila dalam konteks pembelajaran wirausaha masih bisa diterima. Misalnya, Hardiknas diperingati dengan lomba berjualan selama satu bulan. Dalam perlombaan tersebut yang memperoleh keuntungan tertinggi dalam satu bulan, dinyatakan sebagai pemenang. Para peserta diutamakan mahasiswa yang memulai usahanya dari awal (nol). Hal tersebut lebih terwadahi dalam pembelajaran softskill, bukan semata-mata nilai komersil

Masyarakat Multikultural

Menurut kamus sosiologi multikulturalisme adalah perayaan keberagaman budaya dalam masyarakat-keragaman yang biasanya dibawa melalui imigrasi. Inggris telah menjadi masyarakat multikultural kecuali untuk semacam keengganan atau ambivalensi. Kebijakan multikultural di Inggris terwujud dalam respon yang defensive terhadap migrasi dan bukan afirmasi yang positif terhadap keragaman budaya. Wacana multikultural memang muncul dari negara barat yang melihat tidak adanya perlakuan yang sama antara kaum minoritas dan mayoritas, sehingga diadobsi di masyarkat Indonesia sebagai indikator untuk menerapkan basis multikulturalisme. Karakteristik masyarakat Indonesia yang beranekaragam (suku, ras, agama, bangsa, jenis pekerjaan, dll ) merupakan identifikasi untuk menerapkan multikultural yang pada kenyataannya konsep multikultur telah dimiliki oleh masyarakat Indonesia. Konsep multikultur dan pluralisme awalnya disamakan, hanya beberapa yang membedakan itupun letak perbedaanya masih belum jelas. Munculnya wacana multikulturalisme di Indonesia menyatakan terdapat perbedaan jelas antara multikultral dan pluralisme. Multikultural menekankan suatu konsep berbedaan dalam kesederajatan, sehingga apabila masyarakat telah dikatakan masyarakat multikultural dengan paham multikulturalisme maka tidak akan terjadi konflik. wawasan, pengethauan, kesadaran dan toleransi antara anggota masyarakat sudah tinggi sehingga berbanding terbalik dengan terjadinya konflik (minim konflik) khususnya yang berbau SARA. Berbeda konsep dengan Pluralisme yang  hanya sekedar tahu akan perbedan, namun belum menyadari adanya kesederajatan dan konflik yang mendalam (parah) dianggap hal yang wajar karena etnosentrime dan lebih mementingkan kepentingan-kepentingan tertentu yang bersifat pribadi baik dalam kelompok maupun individu.

Konsep multikultural ini, kemudian merambah ke ranah pendidikan. Tingkat Universitas atau sekolah tinggi telah banyak memperbincangkan mengenai multikultural dan telah masuk dalam mata kuliah. Pada jurusan sosiologi mata kuliah masyarakat multikultural dikaji secara khusus untuk benar-benar memahami karakteristik masyarakat Indonesia sehingga harapannya setelah memperoleh mata kuliah tersebut, mampu mengimplementasikan apa yang telah diperoleh dalam masyarakat. Pada jenjang Taman Kanak-kanak (TK), Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan setaranya, Sekolah Menengah Atas (SMA) dan sederajatnya bila ditelaah secara detail sebenarnya nilai-nilai multikultural telah disampaikan namun belum secara spesifik. Hal demikian ditunjukan dalam pelajaran PKn yang diantaranya menjelaskan mengenai rasa toleransi. Kompetensi yang sesuai dilihat dari cakupan lingkungan peserta didik dalam ranah pendidikan formal bila dalam jenjang SD sekedar mengenal, SMP mulai memahami, SMA mengaplikasikan, dan tingkat sekolah tinggi mulai mengidentifikasikan dan menyumbang pemikiran untuk perkembangan suatu bangsa menuju ke taraf kehidupan yang lebih baik.

Dilihat dari sudut pandang calon pendidik, PR (Pekerjaan Rasional) yang utama bagi calon pendidik harus mampu mengemas dengan baik pembelajaran yang mampu mentrasfer value dan knowledge mengenai kompetensi multikultural, sehingga peserta didik baik dalam ranah pendidikan formal, informal, maupun nonformal menguasai apa yang telah mereka dapatkan dalam pembelajran. Hal yang tidak mudah, namun bukannya tidak bisa. Sejalan dengan perkembangan jaman, mudahnya informasi tersebar tidak menutup kemungkinan konsep masyarakat multikultural juga mampu terealisasikan dalam masyarakat Indonesia terutama dalam bidang pendidikan yang meupakan salah satu pacuan dalam meningkatkan kualitas bangsa.

Meninggalkan kawasan pendidikan dan melihat kawasan olah raga (SEA GAME) di Indonesia, sedikit mengintip karakteristik pemain di sepak bola yang menuju final bersama Malaysia terlihat banyak karakteristik pemain yang cukup menggambarkan konsep multikutur khususnya di Indonesia. Satu tim tersebut dianalogikan sebagai satu negara yang terdiri dari pemain sebagai masyarakatnya, ada Okto (10), Gunawan (13), Diego (24), dsb. Para pemain tersebut berlatar belakang berbeda bahakan kadang bertolak belakang dalam aspek budaya, agama, tempat lahir, tingkat kesejahteraan, dll. Namun, mereka sadar dalam satu tim (negara) harus berjuang dalam satu cita-cita yaitu menang dan membanggakan bangsa walaupun juga tidak menutup kemungkinan bersama harumnya nama negara nama individual juga akan melambung. Dilihat secara detail lagi, pemain tim sepak bola tersebut juga tidak semua berasal dan lahir di tanah Indonesia, contohnya Diego merupakan pemain yang naturalisasi dan bermain untuk Indonesia. Hal demikian dapat dilihat pada realita bahwa masyarakat Indonesia bukanlah hanya orang-orang yang lahir di indonesia, namun juga ada dari ras lain (ex:etnis cina yang banyak di Indonesia). Realita ini harus disadari dan semua masyarakat Indonesia baik penduduk asli maupun syah dalam persyaratan hukum harus berhak mendapatkan perlakuan yang sama.

Hiduplah Indonesia Raya,
Semoga Indonesia yang tercinta ini, tetap hidup dengan tersenyum menyongsong kehidupan yang mulia bersama-sama negara lainnya secara damai dan sejahtera.
I Love Indonesia, I aware Multiculture. :-D

Figure of Clasic Sociology Teory

What u say about sociology figure in the clasic teory ?

In the clasic teory, sociology had severel figur likes Auguste Comte, Herbert Spencer, Emile Durkheim, Max Weber, Karl Max.
in explanation,

1) Auguste Comte
He was born in the Montpeller, France, on January, 19 1798. His teacher, Claude Henry Saint Simon gave more influnce in Comte teory cz they had preception that social science can used scientific method  likes nature science. He was well-known as sociology founding father coz his assumption about social science from physics social become sociology. Comte popular with stages three law were teology, metaphisical, positivist. This law used linear concept (never cameback), so didn't like cycle. Teology was believe with supernatural power likes God figure. Metaphisical was believe abstrac power (tree idol, stone idol, cloud idol, etc). Positivist was everything in the world rationaly, example wind occured by the dinamic of air. France revolution made comte saw that  teology, cz in that situation chruch had the absolute authority. Everything what say by pastors were "true" that from the God and didn't againt it and everyone received all of argue from the pastors. Auguste Comte had love story with Caroline Massin and Clotilde De Vaux. Platonic love to De Vaux made altruist expression to show in his religion is called "Humanity religion". Religion in Comte opinions as orientation for nice habit to people (so low aware about altruist). in this situation show cotradiction from rational become subjective.

2) Herbert Spencer
Herbert was born in the Derby, Inggris on April, 27 1820. Spencer also had evolution step in human life. in Spencer opinions called 4 step about human life (evolution). it was procurement or increase, kompleksifikasi, defferentiation, integration. First, procurement or increas explaned that indivual or social group alwasy grow from simple form to complexs form. Second, kompleksifikasi was most complex of organism structure. Third, defferentiation said about specialization of job or worker. Fourth, integration appeared in the plural of society. In evolution of Spencer likes the cycle and he also said about involusionisme (regres). Spencer also pupular with survival of the fittest and this argument is adobted by the Charles Darwin evolution teory.

3) Emile Durkheim
He was born in the Epinal, France on April, 15 1858. Emile Durkheim well-known as modern sociology father. He explaned about fact social (force, be general, external). Durkheim clasification about organic solidarity
(high spesialization of job or worker, low aware of colective, dominant of restitutif law, high Individual, high dependence, concensus on abstrac value and general was important, social institution adjudicated on deviation, industrial or city) and mecanic solidarity
(low specialization of job or worker, high aware of colective, dominant of represif law, low individual, low dependence concensus on patern of normative was important, comunity adjudicated on deviation, primitive or village).  Emile critical about suicide phenomenon and explaned 4 type of suicide : egoistic suicide (bad interaction), altruistic suicide(low integration), anomic suicide(the power of society regulation was bad), fatalistic suicide (high regulation). Durkheim said factors of suicide was society flows.

4) Max Weber
Weber was born in the Erfurt, Germany on April, 21 1864. He popular with Verstehen (didn't only saw physicly, but search and intrepetatif deep mean from the fact). Furthermore, Weber also explaned about 4 social zweek : zweek rational (act depent on the rational of human thingking), weat rational (act depent on absolute value : aesthetics value, religion value, politic value, ethical value, etc), affective rational (act depent on motivation likes emotion : angry, sad, happy,etc), traditional rational (act depent on tradition of culture). Authority consist rational authority (legal authority), traditional authority, charismatic authority.

5) Karl Max
He was born in the Trier, Prussia on Mei 15 1818. Max had great teory about "class". In that situation only had two class, bourgeois (had capital or landlord) and proletarian (worker and not prosperously). He talking about opposition was something never die forever and economic principle said if one human needs was fulfilled will apper other, so never end for human needs. About alliances, worker in the factory wiil be allianced by the product they result.


just have fun to fill free time,,
if much mistake, please give critical !

bEst Regard,
D.A.P_W.D