Pages

Monday, 9 January 2012

KORUPSI BERETIKA

Beretika, sering seseorang mengucapkan kata tersebut kepada orang yang memiliki sopan santun baik kepada dirinya sendiri maupun orang lain. Pengertian Etika (Etimologi), berasal dari bahasa Yunani adalah “Ethos”, yang berarti watak kesusilaan atau adat kebiasaan (custom). Etika biasanya berkaitan erat dengan perkataan moral yang merupakan istilah dari bahasa Latin, yaitu “Mos” dan dalam bentuk jamaknya “Mores”, yang berarti juga adat kebiasaan atau cara hidup seseorang dengan melakukan perbuatan yang baik (kesusilaan), dan menghindari hal-hal tindakan yang buruk.

Penjelasan sekilas tentang etika, membuat tanda tanya besar akan fenomena yang terjadi di masyarakat. Orang yang dianggap beretika dan seharusnya jelas mahir akan hal itu bersikap seolah tidak beretika. Hanya minoritas diantaranya yang mau untuk malu mengacuhkan hal tersebut dan relitanya minoritas itu akan tersingkir. Bukan mengapa atau kenapa ? tapi jawab mayoritas itu demi kepentingan rakyat. Etika berangkat dari nilai yakni anggapan sesuatu itu baik atau buruk. Nilai inipun akan bervariasi antara kebenaran atau pembenaran. Nilai di satu sistem akan berbeda dengan sistem lainnya. Misal pembunuhan itu tidak beretika, tindakan keji, dsb. Jika itu mutlak, maka hukuman gantung, tembak untuk para tersangka itu pun keji da tidak beretika. Seharusnya bila semua berjalan pada tempatnya dan sesuai etika, tidak ada kejadian yang patut dipertanyakan baik atau burunknya karena semua telah menyadarinya.

Fenomena kemiskinan di Indonesia konon terletak pada satu sumber utama yaitu korupsi. Sering digembor-gemborkan oleh berbagai kalangan intelektual bahwa apabila kekayaan alam mampu didistribusikan secara benar, maka tidak ada satu pun rakyat Indonesia yang  kelaparan dalam berbagai kebutuhan hidup. Sorotannya dalam media massa mobil pejabat yang bermilyar rupiah dengan pengemis jalanan yang perlahan dan pasti akan mati dalam kondisi dan tetap di jalanan. Apakah ini yang disebut demi kepentingan rakyat ? atau keadaan ini dipilih agar tidak bertambahnya pengemis jalanan yang sekarang ada ribuan agar tidak menjadi jutaan ?

Sebuah judul artikel Mengemis di Perempatan Jalan demi Membeli Bolpoin (Jawa Pos, Kamis 27 Mei 2010 : 14) menjadi bukti bahwa salah satu rakyat Indonesia yang kreatif untuk mengemis sebagai suatu hasil berpikir demi membeli bolpoin. Hal ini secara tidak langsung juga menggambarkan keadaan pemegang kekuasaan yang mengemis dari rakyat. Namun, caranya jelas beda. Rakyat yang mengemis dijalanan menggunakan kesusahan dan kebodohan mereka untuk mengemis, sedangkan pemegang kekuasaan menggunakan wewenag dang kepintaran mereka bermain kata-kata untuk mengemis harta dari hak-hak rakyat yang katanya sedang diperjuangkan.

Mengutip peryantaan dari Walzer, bahwa bila kita melanggar aturan moral, kita tahu kita “ telah melakukan sesuatu yang salah sekalipun apa yang kita lakukan adalah juga hal yang terbaik untuk dilakukan secara keseluruhan dalam situasi itu”. Menurut kutipan tersebut, hati nurani merupakan hakim yang paling adil walaupun hati nurani jarang didengarkan sebagai perwujudan suatu tindakan. Karl Mark juga menyerukan bahwa pertentangan lah yang paling abadi dalam kehidupan manusia. Pertentangan ini baik secara intern maupun intern yang dirasakan oleh suatu kehidupan, baik manusia, hewan, maupun tumbuhan. Mereka selalu tidak bisa berperilaku sesuai kehendak murninya. Mereka ingin istirahat, namun sinar matahari memaksanya untuk tetap berakivitas.

Etika yang dipelajari mencoba menyeimbangkan hubungan keterpaksaan hidup itu untuk menjadi harmonis dalam berbagai aspek kehidupan. Sadar akan keterpaksaan inilah seorang harus bisa menetukan pilahan. Pilihan itu juga akan berdampak pada pilihan selanjutnya dengan konsekuensi yang imbang atas apa yang telah dipilihnya. Sebenarnya menjadi seorang Nazarudin atau Gayus hampir mirip dengan menjadi seorang waria atau mungkin gay,dsb. Mereka menyatakan bahwa itu adalah takdir. Namun, mereka lupa bahwa akal mereka lumpuh ketika mereka dipilihkan jalan oleh pilihan lumpuh mereka sendiri. Mereka mampu berkata bangga, senang, ataupun sedih. Namun nurani mereka tidak akan mengucapkan hal serupa, kecuali apa yang diucapkan merupakan kebenaran atas hidup mereka sendiri.

Dennis F. Thompson.1999.Etika Politik Pejabat Negara.Jakarta:Yayasan Obor Indonesia

1 comment:

  1. memang benar bahwa tak jarang orang berdasi lebih buruk dari orang yang hidup dijalanan. mereka bermuka dua, pandai memutar balikkan fakta. penjahat seolah menjadi pahlawan, pahlawan dianggap penghalang. itulah kenyataan republik busuk ini. semua seolah bisa dibeli dan dibeli...

    ReplyDelete