Pages

Monday, 21 November 2011

Hari Pendidikan Nasional


LEMAHNYA KESADARAN MAHASISWA UNY
TERHADAP HARI PENDIDIKAN NASIONAL (HARDIKNAS)

Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) merupakan salah satu perguruan tinggi negeri yang berada di Yogyakarta, terdiri dari enam fakultas yaitu Fakultas Ilmu Sosial, Fakultas Ekonomi, Fakultas Matematika dan IPA, Fakultas Bahasa dan Seni, Fakultas Ilmu Keolahragaan, dan Fakultas Teknik. Dulu Universitas ini merupakan IKIP Yogyakarta. Universitas ini berperan penting untuk mencetak kaum terpelajar kususnya seorang guru.
Guru merupakan kata yang tidak asing bagi segala lapisan masyarakat. Baik usia dini sampai tua, semua mengenalnya sebagai sosok tauladan yang baik dan orang yang paling berjasa dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Kebanyakan guru yang berkecimpung dalam bidang pendidikan, terkadang lupa atau bahkan tidak mengetahui perkembangan pendidikan di Indonesia. Mereka tetap terpaku pada satu patokan yang dulu diraihnya ketika masih kuliah dan tidak membuka diri untuk selalu memperbaharui pengetahuannya karena kesibukan pribadi atau mungkin semangat yang sudah berkurang sejalan dengan bertambahnya usia.
Hal-hal demikian yang ada pada guru, tercermin pada calon guru khususnya di UNY. Calon guru seharusnya mengenal betul hal-hal yang berkaitan dengan pendidikan. Contoh yang paling sederhana adalah hari pendidikan nasional yang diperingati setiap tanggal 2 Mei. Hari tersebut sering terlupakan. Mungkin bagi kaum awam hari tersebut biasa saja. Namun, bagi seorang calon guru yang sangat erat dengan pendidikan apakah lazim apabila melupakan hari yang seharusnya berarti dalam langkah hidup bagi seorang guru?
Dari 10 mahasiswa UNY yang saya tanya mengenai peringatan hari pendidikan nasional, hanya 3 mahasiswa UNY yang menjawab benar. Itupun mereka baru saja mempelajari mengenai Hardiknas. Hal tersebut cerminan rendahnya kepekaan calon guru khususnya pada pendidikan. Tidak menjadi pokok, calon guru harus hafal hari-hari nasional secara menyeluruh. Namun, seorang guru dituntut untuk menguasai pengetahuan atau wawasan yang luas. Apabila hal sederhana saja dilupakan, bagaimana dengan hal-hal yang lebih komplek permasalahannya? Ini salah satu analogi, bahwa hal terkecil pun harus tetap diperhatikan. Karena dengan memperhatikan hal-hal yang terkecil akan dapat merambah ke hal-hal yang besar. Bukankah suatu yang besar selalu disusun oleh unsur-unsur yang kecil?
Sayang sekali tidak ada perlakuan khusus terhadap peringatan hari pendidikan nasional oleh mahasiswa. Misalnya, mengadakan seminar membahas mengenai profesional guru, metode mengajar yang menarik, pendekatan emosional terhadap siswa-siswa atau yang lainnya. Saya hanya menemukan artikel-artikel yang menyinggung mengenai hardiknas, sedangkan untuk wujud konkret dari kesadaran bahwa Hardiknas itu bermakna belum ada.
Seharusnya hari pendidikan nasional dapat membekaskan makna untuk menuju hari berikutnya dengan lebih baik. Bukan tidak ada, namun sedikit sekali mahasiswa yang mengadakan kegiatan-kegiatan untuk memperingati hari pendidikan nasional. Kebanyakan kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh mahasiswa masih terpaku pada himpunan mahasiswa (Hima) masing-masing jurusan. Selain itu, mahasiswa yang tidak berkecimpung dalam organisasi, menghabiskan waktunya untuk bermain dan mencari kesenangan. Apabila mereka telah memilih untuk kuliah sebagai calon guru, seharusnya pola perilaku dan hal-hal mengenai pendidikan harus diperdalam. Pembentukan kepribadian sebagai seorang guru tidaklah mudah, apalagi mahasiswa masih berusia remaja dan kondisi emosionalnya masih labil. Semuanya memang  tidak secara spontan namun, melalui proses dan bertahap. Apabila menuju prosesnya saja sudah tidak ada perlakuan, bagaimana mau menjalani prosesnya hingga menemukan hasil dari arah yang ditempuhnya?
Menurut saya peran Universitas Negeri Yogyakarta cukup baik untuk meningkatkan kesadaran mahasiswa terhadap hari pendidikan nasional. Beberapa waktu yang lalu, saya menemukan artikel mengenai penghargaan guru tauladan daerah Yogyakarta guna memperingati hari pendidikan nasional ketika membuka web UNY. Guru-guru yang terpilih menjadi guru tauladan tersebut diberi uang pembinaan. Penghargaan tersebut diberikan oleh Ibu Nurfina selaku Pembantu Rektor I. Saya rasa hal tersebut patut dicontoh oleh mahasiswa kususnya calon guru. Misalnya memberikan penghargaan kepada mahasiswa (calon guru) yang berpenampilan baik dan sudah mencerminkan sebagai seorang guru atau dengan kegiatan-kegiatan seperti yang telah saya sebutkan sebelumnya.
Dilihat dari sudut pandang yang lebih luas, dibandingkan dengan hari valentine (hari kasih sayang), kesadaran akan pentingnya hari pendidikan nasional sangat memprihatinkan. Saya yakin 80 % siswa SD, SMP, dan SMA mengetahui hari valentine dan 40% merayakannya, sedangkan hari pendidikan nasional siswa SD, SMP, dan SMA belum tentu tahu apabila gurunya tidak menyampaikannya di dalam kelas. Media masa seperti televisi, radio, koran, majalah mengiklankan hari valentine sebelum hari valentine sampai sesudah hari valentine, sedangkan artikel mengenai hari pendidikan nasional hanya pada koran-koran tertentu. Maraknya perayaan valentine dibanding dengan hari pendidikan nasional karena hari valentine lebih komersil dalam arti banyak orang memanfaatkan hari itu untuk mendapatkan keuntungan ekonomi. Hal tersebut terwujud dari gencarnya iklan sampai pada pernak-pernik yang disediakan di kebanyakan toko, terutama toko kado. Targetannya adalah kaum muda yang sangat familiar dengan kasih sayang (pacaran) sedangkan hari pendidikan nasional tidak ada nilai komersil yang bisa menguntungkan bagi keseluruhan lapisan masyarakat. Hanya kaum terpelajar dan kaum yang berkecimpung di dunia pendidikan yang mengatakannya bermakna. Itupun tidak semua kaum terpelajar menyadari makna dari hari pedidikan tersebut.
Hal yang perlu disoroti, bagaimana agar kesadaran akan hari pendidikan nasional bisa muncul khususnya bagi kaum terpelajar (mahasiswa) dan keseluruhan lapisan masyarakat pada umumnya? Apakah dengan membuat hari pendidikan nasional mempunyai nilai komersil ekonomi sehingga dapat menjual atau meningkatkan kesadaran para kaum terpelajar dulu baru merambah ke masyarakat secara menyeluruh?
Menurut saya untuk meningkatkan kesadaran mengenai Hardiknas untuk semua lapisan masyarakat pada umumnya dan khususnya bagi mahasiswa (calon guru) harus melalui penanaman pada jenjang pendidikan dasar terhadap Hardiknas ketika pelajaran dalam kelas dan merealisasikannya dalam bentuk kegiatan-kegiatan yang bertema pendidikan. Peserta didik harus diajarkan memaknai hari tersebut, misalnya dengan membudayakan Hardiknas sebagai hari seorang anak harus (wajib) membantu pekerjaan orang yang lebih tua atau kegiatan lain. Seperti hari valentine yang diidentikkan dengan memberikan hadiah kepada orang-orang yang disayangi.
Dengan kegiatan semacam itu, saya kira Hadiknas tidak akan luntur bahkan terlupakan oleh masyarakat karena wujud dari peringatan Hardiknas jelas dan dilakukan oleh masyarakat. Kalau Hardiknas dibuat agar mempunyai nilai komersil saya kurang setuju karena pendidikan terlahir dengan tulus, penuh harapan baik dan semangat yang membara sehingga apabila harapan baik tersebut dikombinasikan dengan keuntungan, saya kira kurang tepat. Namun, apabila dalam konteks pembelajaran wirausaha masih bisa diterima. Misalnya, Hardiknas diperingati dengan lomba berjualan selama satu bulan. Dalam perlombaan tersebut yang memperoleh keuntungan tertinggi dalam satu bulan, dinyatakan sebagai pemenang. Para peserta diutamakan mahasiswa yang memulai usahanya dari awal (nol). Hal tersebut lebih terwadahi dalam pembelajaran softskill, bukan semata-mata nilai komersil

No comments:

Post a Comment