Pages

Saturday, 3 December 2011

Asam Basa di Hati Kimia

Asam Basa terdengar asing di telinga yang belum mengenyam mata pelajaran kimia terutama di Sekolah Menengah Atas (SMA). Mayoritas mata pelajaran ini mendapatkan peringkat ketiga mata pelajaran yang dibenci peserta didik khususnya jurusan IPA (Ilmu Pengetahuan Alam) setelah fisika (peringkat pertama) dan matematika (peringkat kedua). Beberapa paserta didik juga memutuskan untuk tidak memilih jurusan IPA karena mata pelajaran kimia ini yang terkesan sangat abstrak dan membosankan ditambah guru yang kurang bersahabat menjadikan kimia menjadi nightmare.
Berbeda dengan minoritas yang memandang kimia sebagai sesuatu yang unik dan mengasyikan, bisa dianalogikan menemukan cinta pada pandangan pertama bersama SPU (Sistem Periodik Unsur) yang sangat memikat bagi penggemar mata pelajaran kimia. Layaknya bertemu pacar, ketika pelajaran kimia maka kaum minoritas tersebut hatinya akan bergetar dan jantungnya berdetak cepat seakan ingin mendekap seluruh ilmu yang tebingkis dalam kata kimia. So unique and that's real.
Para minoritas kimia sering berkata,"mereka benci karena mereka tak tahu anugerah yang terdapat pada hati kimia". Menurut kaum minoritas tersebut, kimia mampu menyadarkan akan asam basanya kehidupan dan bila asam basa tersebut mampu dikombinasikan dengan baik maka akan menjadi garam yang bermanfaat bagi kehidupan manusia. Masih ingatkan ? Apa manfaat garam ?? Musik dangdut sering berdendang, " dangdut tanpa goyang bagai sayur tanpa garam" kurang lebih maknanya penuh dengan kegembiraan. Namun, bila dilihat makna denotasinya maka manfaat garam selain penyedap makanan juga mengandung yodium yang dapat mencegah penyakit gondok dan menjaga metabolisme tubuh dari serangan bakteri-bekteri nakal. Jadi, bila kita mampu menyeimbangkan asam basa kehidupan, maka kita akan mampu menyelamatkan hati, pikiran, raga dan jiwa dari hal-hal yang kurang berguna. Kata lainnya mampu berarti bagi diri sendiri dan bermanfaat bagi orang lain secara meluas.

Menemui kata garam, remember kisah petani garam di Indonesia yang sangat mengenaskan. Mereka menahan terik matahari yang mengucurkan keringat hingga memandikan tubuh. Mengalirkan air laut ke kotak-kotak tambak untuk menjemurnya agar menjadi garam, dijemur, disaring, digosrok  berulang-ulang secara manual, namun hasilnya belum maksimal dan kandungan iodinnya sangat rendah sehingga hasilnya  dijual dengan harga yang murah. Hal ini serasa jatuh tertimpa tangga dan terinjak-injak mengetahui ada import garam dari negara lain yang membanjiri produk dalam negeri dan mematikan petani garam. Terasa meminum racun dan mati secara perlahan. Ditunjang budaya rakyat yang lebih suka dan bangga menggunakan produk luar negeri, dalam konteks ini juga mencekik petani garam.
Bila dilihat dari sudut pandang pemerintah yang memutuskan untuk import (garam, gula, cabai, dsb) semata-mata untuk memenuhi kebutuhan pasar dan menstabilkan harga sehingga barang pokok dapat dijangkau oleh semua lapisan masyarakat. Namun, langkah tersebut kurang efektif bila pengimporan dilakukan secara terus-menerus tanpa ada batasan yang jelas mengenai kestabilan harga pasar yang seharusnya sosialisasi pengimporan barang dipublikasikan secara gamblang sehingga konsumen juga berpikir dengan etika kepedulian bukan semata kebutuhan individual ketika hendak mengkonsumsi.

Langkah yang mungkin dapat memperkaya diri, dalam konteks petani garam harapannya pemerintah mampu memfasilitasi produksi garam dengan alat yang standart sehingga dapat dioperasikan oleh petani garam dan meningkatkan hasil produksi serta kualitas produksi garam mereka. Toh, bila mencerdaskan bangsa sendiri dan memudidayakan bagsa sendiri untuk gemar berproduksi lebih baik daripada melestarikan budaya konsumerisme yang berujung pada kemelaratan karena besar pasak daripada tiangnya. Sekilas mungkin solusi ini akan diclaim pemborosan dan belum tentu petani garam yang berpendidikan rendah mampu mengoperasikan alat produksi dan mau meninggalkan cara produksi yang tradisional menuju cara produksi yang modern. Sanggahan yang cukup menarik, namun dalam suatu langkah tentunya pasti ada halangan. Solusi tersebut dapat dikatakan hasilnya jangka panjang, tapi bukankah jangka pangjang itu juga akan menguntungkan masyarakat karena telah pandai ? Kata pandai tak akan muncul begitu saja tanpa adanya kata bodoh atau kata bodoh terlebih dahulu. Mulai dari tahu, mengenal, mengerti, memahami, mengaplikasi, menyumbangkan, menjaganya, dan terus mengembangkannya. Adanya penyadaran dan kesadaran untuk hidup yang lebih baik mampu membuat gejolak yang teraniaya terangkat untuk melakuakn perubahan (ingat bom Hirosima dan Nagasaki jepang, revolusi Perancis, Inggris, dan di negeri kita adanya reformasi pemerintahan).

Itulah satu kata "garam" yang mengingatkan kita pada salah satu fenomena kayanya Indonesia yang sering terlupa. Percampuran unsur-unsur sehingga menjadi senyawa mampu melihat kekomplekan masalah yang ada di negeri tercinta ini. Kimia masih punya hati, dan hati inilah sebagai permata yang tetap bersinar untuk tanah air pusaka yaitu Indonesia.

best Regard,
D.A.P_W.D
:-D

No comments:

Post a Comment