Pages

Thursday, 15 December 2011

Eksistensi Sosiologi dalam Masyarakat


Dunia tanpa ilmu akan menjadi buta, namun ilmu kerap dipergunakan untuk membutakan dunia. Dua pilar yang terus eksis dalam naungan bumi tercinta ini yaitu ilmu alam (kesehatan, keadaan alam, bahan makanan, sarana dan prasarana, dll) dan ilmu sosial (politik, hukum, budaya, ekonomi, kemanusiaan, dll). Keduanya mempunyai hubungan sangat erat seperti ditunjukan dalam realitanya, bahwa manusia tanpa alam akan musnah dan alam tanpa manusia akan hampa. Kedua ilmu tersebut akan terus mempertahankan eksistensinya di dalam masyarakat. Kata eksistensi dipandang sangat penting bagi semua ilmu agar tetap hidup dan terus berkembang. Eksistensi suatu ilmu akan tetap terjaga apabila kajian dalam ilmu tersebut mampu dipahami dan diaplikasikan dalam kehidupan bermasyarakat. Misalnya, adanya rumah sakit merupakan wujud eksistensi ilmu kedokteran tetap berperan penting dalam kehidupan masyarakat. Dampak implementasi suatu ilmu juga dapat mempengaruhi tingkat eksistensi suatu ilmu tergantung kebutuhan masing-masing daerah. Terkadang daerah A lebih banyak orang yang sakit sehingga dipandang ilmu kedokteran mampu membawa perubahan yang signifikan terhadap keadaan yang lebih baik, sebaliknya di daerah B yang tingkat kebersihannya tingggi, penyakit jarang ditemukan, mungkin masyarakatnya tidak memandang ilmu kedokteran sekuat dengan masyarakat A.
Beberapa faktor yang mempengaruhi eksistensi suatu ilmu sebagai berikut: tingkat pemahaman suatu ilmu, dampak yang ditimbulkan oleh suatu ilmu, keunikan suatu ilmu, kebutuhan dalam masyarakat, kuantitas dan kualitas tokoh pendahulu. Pemahaman suatu ilmu oleh masyarakat sangat penting, seperti pada umumnya orang bilang tak kenal maka tak sayang. Begitu pula dengan eksistensi, bagaimana orang mau mempertahankan, membela dan memgembangkan suatu ilmu apabila orang tersebut tidak mengenal? dari mengenal akan beranjak untuk memahami dan kemudian mengaplikasikannya tergantung pada kemauan dari masing-masing individu. Terdapat manfaat bagi dirinya atau tidak dengan memahami ilmu tersebut. Selanjutnya, dampak yang ditimbulkan oleh suatu ilmu. Berbicara mengenai dampak tentunya ada dampak negatif dan positif, bila dampak positif yang lebih dominan daripada dapak negatifnya maka eksistensi suatu ilmu jelas akan tetap terjaga. Nilai tambahnya, manfaat yang mendominasi tersebut menjadi sarana pemikat untuk perkembangan dan kemajuan kajian suatu ilmu. Kemudian keunikan suatu ilmu juga mempengaruhi eksistensinya karena mampu menjadi daya pikat kepada individu untuk mengkajinya. Misalnya, beberapa orang berpendapat bahwa ilmu kimia dengan percobaan yang mengkombinasikan beberapa unsur menjadi senyawa dengan hal-hal unik (timbul gelembung, asap, perubahan warna, dll) mampu membawa kesenangan tersendiri kepada pengkajinya. Setelah itu, kebutuhan masyarakat. Menurut penulis faktor inilah yang sangat penting dalam eksistensi suatu ilmu. Ketika suatu ilmu sudah tidak mampu memenuhi kebutuhan masyarkat apa gunanya ilmu tersebut dipertahankan ? Pada akhirnya ilmu tersebut akan terlupa dan perlahan akan hilang karena sudah tidak ada yang mau untuk menjaga eksistensinya. And the last, kuantitas dan kualitas tokoh terdahulu ini sangat berpengaruh kepada seberapa kuat ilmu itu mempengaruhi dunia dan membawa dampak bagi dunia. Pendahulu yang handal dan berkontribusi besar bagi perkembnagan wajah dunia akan menjadikan suatu ilmu dambaan masyarakat untuk mampu mengkajinya dengan harapan minimal menjadi orang handal juga seperti tokoh-tokoh dalam keilmuannya.
Ilmu sosial yang identik dengan masyarakat dan dekat dengan sosiologi menjadi perhatian khusus dalam tulisan ini. ketika membicarakan eksistensi, tentunya sosiologi yang merupakan ilmu baru dibandingkan dengan ilmu sosial lainnya seperti ekonomi, hukum, politik juga ingin mengetahui seberapa jauh sosiologi eksis dan mempengaruhi wajah dunia. Sosiologi lahir dari suatu kekacauan, yaitu transisi masyarakatbaru yang merupakan titik pertemuan antara tiga buah revolusi, pertama revolusi politik (Revolusi Perancis), revolusi ekonomi (revolusi industri), dan revolusi intelektual (kemenangan rasionalisme, ilmu pengetahuan dan positivisme) (Giddens, 2004:XII-XIII). Tiga negara yang populer asal sosiologi adalah di Jerman, Perancis, dan Amerika Serikat. Terpilihnya tiga negara tersebut karena tokoh-tokoh sosiologi seperti Emile Durkheim, Auguste Comte, Pareto, Parson, dll mampu melihat fenomena yang ada di tiga negara tersebut secara detail sehingga muncul berbagai teori sosiologi yang beberapa relevan sampai saat ini bahkan mendatang. Pengungkapan fenomena sosial inilah yang menjadi daya tarik sosiologi untuk terus menjaga eksistensinya dan mengembangkan keilmuannya. Basis obyek kajiannya adalah masyarakat juga menjadi dayapikat yang seru dan unik karena bersifat dinamis. Sosiologi sering disepelekan karena dianggap ilmu hafalan dan membosankan dalam kacamata siswa khususnya pada jengjang SMA. Namun, bila seorang mampu mendalami maka akan menemukan hal-hal yang diluar pemikaran orang pada umumnya.
Fokus bahasan sosiologi yang luas pada hakekatnya berkutat pada garis besar pokok kajian sebagai berikut (Giddens, 2004: XXIII-XXVI) :
1.     Ikatan sosial
2.    Modernitas
3.    Dominasi dan kekuasaan
4.    Tindakan
5.    Masalah masuk akal dan tidakmasuk akal
6.    Struktur-struktur dalam masyarakat
7.    Perubahan

Dilihat segelintir orang, sosiologi  belum dikenal. Contoh riil ketika mahasiswa sosiologi angkatan 2010 UNY melakukan kuliah kerja lapangan di Bali. Salah satu guide masih awam mendengar kata sosiologi dibandingkan dengan sejarah. Guide tersebut masih bertanya apa itu sosiologi, padahal setiap harinya beliau berkecimpung dalam ranah sosial yang terus berhadapan dengan bermacam-macam wisatawan baik domestik maupun mancanegara. Konkretnya Guide tersebut sudah praktek, namun belum menyadari mengenai hal yang sehari-hari dijalaninya yaitu berinteraksi dan menyampaikan hal-hal yang berkaitan dengan Bali. Tragis sekali sosiologi, di mata orang yang berperan penting sebagai mediator budaya belum memahami sosiologi.
Sekilas menginjak pokok moral bangsa, ilmu sosial yang patut diintimidasi. Hadiah bui juga pantas tertuju untuk ilmu sosial apabila kehidupan masyarakatnya bobrok. Pada kacamata orang pada umumnya ilmu hanya sebuah sarana sebagai pengkais nafkah. Sekolah tinggi, kerja mudah, gaji besar dan penghormatan selalu didam-idamkan kalayak. Murninya ilmu sering kali dilupakan, bahwa ilmu lahir untuk beriringan, partner bukan budak. Fenomenanya, seorang mengkaji suatu ilmu mencari mana yang kelak mampu membawanya sebagai pegawai negeri yang cepat di angkat, seperti sosiologi dewasa ini. Mayoritas yang masuk di prodi atau jurusan sosiologi khususnya pendidikan hanya berpandangan bahwa sosiologi masih sedikit lulusannya, sehingga untuk menjadi pengawai negeri dengan profesi guru masih terbuaka lebar. Memprihatinkan skaligus daya pikat untuk eksistensi sosiologi sendiri. Memprihatinkan dalam pembentukan motivasinya, bukan sebagai orang yang riil mau mengembangkan sosiologi tetapi hanya ingin pegawai negeri. Daya pikatnya, dengan memanfaatkan situasi demikian banyak yang tertarik pada sosiologi dan harapannya ketika telah mengkaji tidak tuntutan pegawai negeri saja yang diharapkan, namun juga mampu mengembangkan keilmuannya di bidang sosiologi.
Setiap insan tidak pernah tahu akhir dalam kisah hidupnya, tapi hati nurani sebagai hakim yang paling adil selalu tahu apa yang menjadi the best and that true the fact. Pilihan bukan ancaman, melainkan jalan dengan konsekuensi yang tinggi.
Spirit Sociology never ending !!!!!!


Giddens, dkk.2004.Sosiologi Sejarah dan Berbagai Pemikirannya.Yogyakarta:Kreasi Wacana Offset.

No comments:

Post a Comment